Rahasia

Disclaimer: Merk apapun yang dipajang di cerita ini adalah copyright dari setiap pemegang merk masing-masing. Penulis tidak memiliki hubungan apapun dengan merk yang mungkin disebutkan di dalam cerita ini. Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Apabila ada kemiripan ataupun kesamaan nama, tokoh, tempat, dan karakteristik, itu hanyalah sebuah kebetulan yang tidak disengaja. Selamat membaca! Kritik dan sarannya ditunggu :D

 

By: Me

Laju mobil Chervolet Corvette milikku terus melaju di atas aspal jalan raya. Aku melihat ke arah jam dashboard yang menunjukkan pukul 11.32 “Sebentar lagi, mudah-mudahan tidak terlambat.”, gumamku. Namun apa daya, tiba-tiba mobil di depanku berhenti seketika dan memaksaku untuk menginjak pedal rem. Aku membuka kaca jendelaku kemudian melihat ke depan, ada rentetan kendaraan sangat panjang yang berhenti dan tidak bergerak. “Sial! Kacau urusannya kalau begini.”, geramku. Akhirnya aku pun mengambil smartphone-ku dan menelepon direktur pemasaran. Setelah mengetahui bahwa aku terjebak, ia pun memaklumi apa yang kualami dan menyuruhku untuk bersantai saja di dalam mobil. Setelah 30 menitan, lalu lintas pun tetap tidak bergerak. Akhirnya aku pun memutuskan untuk menurunkan sedikit sandaran jok mobilku ke belakang sehingga aku bisa sedikit tiduran. Kemudian aku pun memejamkan mataku sedikit dan kemudian kepalaku tidak sengaja menoleh ke arah kiri…

 

***

Kurang lebih sekitar 3 tahun yang lalu, aku baru saja diangkat menjadi wakil direktur operasional sebuah perusahaan telekomunikasi ternama di negara ini. Setelah sesi basa-basi serah terima jabatan yang membuatku bosan selesai, para petinggi perusahaan pun memulai acara makan-makan yang tentu saja, itu merupakan favoritku. Oh ya, sebelum melanjutkan, aku ingin memperkenalkan diriku. Namaku Rami Suwani, saat ini usiaku baru menginjak umur 25 tahun. Aku adalah anak dari sepasang imigran yang melarikan diri dari konflik di Indonesia. Namaku sendiri diambil dari penggabungan kedua nama orang tuaku dan dari akronim yang berarti Sunda Kawani. Secara harfiah, bisa diterjemahkan bahwa orang tuaku ingin memiliki anak yang berani (kebetulan kedua orang tuaku berasal dari suku Sunda). Umur 17 tahun, aku pun diterima sebagai warga negara ini dikarenakan aku lahir di negara ini. Ketika umurku 21 tahun, aku pun diterima sebagai karyawan tetap meskipun aku masih berkuliah. Kemudian, dengan pengangkatan diriku sebagai wakil direktur operasional, maka secara otomatis aku menjadi jajaran petinggi termuda di perusahaan ini.

Oke, kembali lagi ke cerita utama. Setelah dilantik, acara makan-makan pun dimulai. Ada bermacam-macam masakan yang disediakan. Mulai dari masakan Eropa, Korea, Jepang, Tiongkok, bahkan yang mengejutkanku, ada masakan Indonesia di sana. Karena penasaran, akhirnya kucicipi semua masakan itu. Yah, namanya juga kalo udah kalap pasti susah dicegah. Karena itulah aku pun kekenyangan dan sulit untuk bergerak (bicara aja sulit, apalagi bergerak?). Pada akhirnya, setelah pelantikan pun aku dibantu berjalan oleh beberapa wakil direktur menuju rumahku.

Mobil Renault Espace V milik Renee Calloin (wakil direktur SDM) berhenti tepat di depan rumahku, sebuah flat berbatu bata merah yang terdiri atas 3 lantai. Dengan beberapa jendela dan sebuah teras, rumahku berdiri di antara jajaran flat lainnya di sebuah jalan dua jalur yang cukup kecil. Aku pun turun dari mobil Renee sambil mengucap terima kasih. Setelah mobil Renee pergi, aku pun membuka pintu kayu redwood rumahku dan menguncinya kembali. Keadaan rumahku belakangan ini memang cukup rapi, karena aku jarang ada di rumah menjelang kenaikan pangkatku di kantor. Setelah menggantungkan jaket dan menaruh sepatuku, aku pun menyalakan perapian dan mengambil buku “Secrets Against Friendship” yang belum selesai kubaca. Sembari menyeruput teh hangat yang kutuangkan dari termos di atas meja, aku pun melanjutkan membaca buku tersebut. Aku masih penasaran dengan akhir cerita dari buku itu yang menceritakan satu kelompok pertemanan yang mengalami konflik sebagai akibat dari anggota kelompok tersebut yang saling menyembunyikan berbagai rahasia satu sama lainnya.

Beberapa halaman aku terhanyut membaca buku itu, aku dikejutkan dengan suara telepon rumahku. Ternyata yang menelepon adalah Theyra, salah satu supervisor keamanan jaringan yang bekerja di departemen operasional. Ia mengatakan bahwa ada masalah operasional yang harus segera kutangani, tetapi karena berhubung waktu sudah menunjukkan dini hari, maka aku pun meminta itu untuk menyelesaikan masalahnya di pagi hari. Setelah menutup telepon tersebut, aku pun masuk ke kamar mandi untuk mandi sebelum tidur. Di dalam bath-tub antik itu, aku pun termenung, “Masalah apa ya? Baru mau kerja hari pertama kok udah ngurusin masalah berat lagi? Duh, mending nyelam dulu ah, siapa tahu dapat inspirasi.”. Setelah menyelam beberapa detik dan menyelesaikan kegiatan cuci badan, akhirnya aku pun naik ke atas kasur. Bisa dibilang, kasur ini adalah sebuah kasur yang cukup nyaman dan empuk. Klasik? Oh ya pasti, rangka kasurnya yang kubeli dengan harga murah dari garage sale seorang tetangga dan spring bed bekas yang kubeli di toko loak.

Pasti kalian berpikir bahwa aku ini sok miskin kan? Tentu tidak. Aku begini karena aku masih belum memiliki calon pendamping hidup, jadi aku harus sering menabung agar nantinya ketika memulai kehidupan baru, aku tidak perlu terlalu bersusah payah. Selain itu juga, aku cuma hidup sendiri ini, jadi tetap santai dan tetap irit meskipun sudah menjadi wakil direktur (kok kesannya sombong ya? Hehe, tidak ada maksud sombong kok, hanya menceritakan saja).

 

**

“BEEP BEEP BEEP”. Suara beruntun tersebut membangunkanku dari tidurku. Aku menekan tombol dan melirik ke jam alarm tersebut. “Jam enam kurang lima menit…. AKU TERLAMBAT! DUH!”. Dengan sedikit tergesa-gesa aku pun terbangun dari kasur, aku pun langsung merapikan berkas-berkas yang ada di meja kerjaku ke dalam koperku, tidak lupa buku Secrets Against Friendship pun aku bawa (siapa tahu bisa kubaca di saat senggang, meskipun saat senggangnya jarang banget). Tepat pukul enam pagi, aku turun ke garasi dan memanaskan Opel Costra merahku. 30 menit kemudian (setelah mandi dan sarapan dadakan tentunya), dengan mobil yang bisa dibilang cukup murah ini, aku pun berangkat menuju kantor. Seperti biasanya, aku menyapa beberapa tetanggaku yang sama-sama bersiap untuk berangkat kerja, namun bedanya pada hari ini, aku menerima sebuah kipas lipat dari anak tetanggaku. Ia memberikan kipas lipat warna hijau tersebut dengan ceria. Tentu saja, ekspresi itu membuatku teringat kepada gadis kecil yang sering muncul di dalam mimpiku. Entahlah, aku tidak pernah terlalu mempedulikan itu sekarang ini, karena aku sibuk memperhatikan hal lain.

30 menit perjalanan menuju kantor, sebuah hal yang sangat langka di kota ini apabila dibandingkan dengan biasanya (1 jam perjalanan menuju kantor). Setelah memarkirkan kendaraanku di basemen yang kurang terang ini, aku pun menaiki lift. Di lift itu aku bertemu 5 orang supervisor bawahanku (Mark, Leishter, Zubin, Gash, dan Dina) yang sudah kukenal cukup lama semenjak aku bekerja di sini. “Oy Mi, sebenarnya kita dipanggil ke kantor pagi-pagi ada apa sih?”, tanya Zubin setelah menyapaku. “Waduh, nggak tahu juga kenapa ini, tapi kan biasanya perempuan yang lebih jago buat nebak-nebak. Bukan begitu?”, jawabku. Leishter, Zubin, Gash, dan Dina pun tertawa, sementara Mark hanya bisa tersenyum sembari mendehem, entah mungkin tersindir atau apa. Akhirnya kami pun sampai di lantai 8 gedung kantor ini. Di lantai inilah semua manajemen departemen operasional perusahaan dilaksanakan. Karena direktur operasional sedang tidak ada, akhirnya aku pun terpaksa memimpin rapat ini. Rapat pertamaku sebagai wakil direktur ini diselenggarakan di dalam sebuah ruangan kedap suara yang seluruhnya terutup oleh kaca bening, sehingga apapun gerakan orang-orang yang berada di dalam ruang rapat bisa terlihat oleh siapapun yang berada di ruang utama lantai ini. Sementara di dalam ruangan sendiri ada sebuah meja kaca persegi panjang yang dikelilingi oleh banyak kursi-kursi cukup empuk berwarna hitam. Di depan ruangan ini sendiri terdapat sebuah proyektor yang digantung, layar proyektor, papan tulis kaca lengkap dengan peralatannya, dan sebuah dudukan khusus untuk laptop yang akan dikoneksikan kepada proyektor.

Setelah semua supervisor duduk di dalam, Theyra pun mengoneksikan laptopnya ke proyektor. Kemudian ia pun mulai menjelaskan masalah yang ditemukannya. “Telah terjadi kemungkinan sabotase beberapa jaringan utama telekomunikasi. Sebelum saya pulang tadi malam, saya mendapatkan informasi dari salah satu operator piket yang menyatakan bahwa ada notifikasi peringatan sabotase jaringan berbunyi sehingga demi prosedur keamanan, akhirnya saya terpaksa memutuskan jaringan untuk sementara selama kurang lebih 45 menit.”. “Hmm, baiklah kalau begitu, karena ini berhubungan dengan keamanan, maka tidak ada kompromi. Kita akan membentuk 3 tim. Tim A, terdiri dari 6 orang akan mencari kelemahan keamanan jaringan dan memperbaikinya. Tim B, terdiri dari 10 orang akan fokus untuk mencari siapa pihak yang melakukan sabotase, dan sisanya masuk ke dalam Tim C. Untuk tim C, tolong cek apakah ada data yang dicuri atau tidak. Jika ada, tolong buatkan list data apa saja yang dicuri.”, perintahku dengan tegas. “Baik pak.”, sahut mereka. Mereka pun langsung meninggalkan ruang rapat dan berkumpul di tempat preferensi tim mereka di lantai ini. Meskipun tadi aku lupa untuk membagi para supervisor-ku, ternyata mereka sudah membagi diri ke dalam tim secara cepat dan efisien. Setelah menyadari hal itu, aku pun menghampiri Theyra yang sedang merapikan laptop dan berkasnya.

“Ra, bisa bantuin gua lakuin sesuatu ga?”, tanyaku.

“Sesuatu? Tentang?”, balasnya.

“Jadi begini, gue takut ada sabotase dari dalam mengenai masalah ini. Bisa nggak lu tolong bantu pastiin bahwa sumber masalahnya ini dari luar? Nah kalo misalnya dari dalem, gue pengen tau siapa yang ngelakuin semua ini dan apa motifnya. Bisa kan?”, pintaku dengan nada sedikit tegas.

“Okee Ramii, tapi ada bayarannya yaaa.”, balasnya sambil nyengir.

“Elah, paling juga minta ditraktir masakan spesial di kantin kantor, kayak biasa kan?”

“Nah, lu tau banget dah yang gua mau. Okee, gue kerjain bareng tim B nanti habis gue bikin laporannya.”, ujarnya sembari mengedipkan mata sebelah kirinya.

“Yaudah sih, gue aja yang urus laporan, lu sekarang kerjain apa yang harus lu kerjain.”, sanggahku sembari aku mengambil map dari tangan Theyra. Ia pun mengangguk dua kali, memberikan persetujuannya.

Aku pun bergegas kembali ke ruanganku. Di sebuah meja kaca depan kursiku, sudah ada setumpuk berkas yang menunggu untuk ditandatangani. Dengan rasa sedikit malas aku pun menaruh map yang kupegang di samping meja kaca tersebut kemudian aku berjalan menuju ruang santai untuk mengambil secangkir kopi. “Yah, daripada nggak ada lagi kopi, mending yang jelek dulu lah sementara.”, gumamku ketika mengingat kopi yang disediakan di sini rasanya memang tidak begitu enak di mulut. Setelah menuangkan kopi ke dalam mug berwarna biru itu, aku kembali ke dalam ruanganku dan duduk menghadapi serbuan berkas yang entah kapan akan selesai kutanda-tangani, karena aku harus memeriksa setiap berkas itu dengan teliti sebelum ditandatangani. Jika tidak, aku bisa terkena tuduhan mal-administrasi atau yang lebih parah, aku bisa dianggap melakukan korupsi uang perusahaan, yang tentu saja berbahaya bagi karirku.

Asyik terlarut memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di mejaku sambil browsing di unit komputer baruku, aku tidak menyadari bahwa jam istirahat siang telah tiba, tentu saja aku tersadar oleh ketukan Theyra dan Leishter di pintu ruanganku dan memberikan isyarat bahwa waktu istirahat telah tiba. Kulempar sedikit berkas yang kupegang ke atas meja, kemudian aku pun beranjak mengikuti Theyra dan Leishter menuju kantin. Tentu saja, buku Secrets Against Friendship tidak lupa aku bawa, karena siapa tahu aku bisa membacanya di kantin nanti.

Kantin kantor kami terletak di lantai 2, dengan luas kurang lebih sama dengan ruangan utama departemen operasional di lantai 8. Di dalamnya terdapat puluhan meja berdesain minimalis untuk 4 orang, juga ada pemisah antara dapur ibu kantin dengan ruang makan di kantin tersebut. Ada juga bar yang biasanya hanya digunakan ketika mayoritas pegawai kantor terkena “lembur wajib”. Dengan pemandangan kantin menghadap ke sebuah taman yang luas di depan kantor, biasanya setelah makan aku akan memandangi taman tersebut dari bangku yang sering kududuki sembari membaca buku atau menggunakan smartphone dengan tenang. Tetapi, dugaanku bahwa istirahat di kantin ini akan menjadi istirahat yang tenang, ternyata tidak terjadi. Setelah aku, Theyra dan Leishter memakan makananku, Leishter pun beranjak pergi, entah kemana. Sementara setelah Leishter pergi Theyra pun mulai bercerita.

“Mi, sepertinya ada yang sedikit mencurigakan dari tim B.”, ia pun membuka percakapan dengan sedikit nada sinisnya, yang sudah sering kudengar.

“Wah, kenapa nih? Kok tumben sinis banget sama tim sendiri?”, gumamku sambil sedikit nyengir.

“Huss, ini bukan bercanda, tapi beneran. Ada yang aneh dengan tim B.”, ia menunjukkan ekspresi serius.

“Eits, serius nih kayaknya. Kenapa?”, tanyaku penasaran.

“Jadi begini, waktu tadi gua ngumpul di tim B, kayaknya ada yang mereka sembunyikan sih. Soalnya kerjanya juga ogah-ogahan gitu kan. Nah terus beberapa orang dari mereka bisik-bisik gitu kayak kurang suka gua ada di situ, terus juga kalo diperhatiin, mereka sebenernya hampir nggak kerja loh Mi. Tapi ya gimana ya, ada gua kali disitu jadi pada kerja akhirnya, meskipun cuman sedikit”, ceritanya sembari menyeruput iced coffee dari gelas.

“Yaudahlah, nanti biar gue pastiin sendiri. Untuk sementara, stick to the team aja.”, perintahku.

“Oke deh. Eh, lu yang bayar ya, jangan lupa.”, ucap dia sembari beranjak dari kursinya.

“Okee, okee.”, gumamku dengan ekspresi jengkel.

Saat aku hendak membayarkan pesananku dan pesanan Theyra, anggota tim B pun mendatangi kantin (tidak termasuk Leishter). Kemudian aku pun memutuskan untuk memesan segelas kopi lagi dan kemudian aku pun menyapa mereka.

“Halooo…”, sapaku dengan ramah.

“Wah, halo juga Ramii.”, sapa beberapa dari mereka dengan ekspresi sedikit kaget.

“Ini lagi pada ngapain disini? Bukannya sebentar lagi mau jam kerja ya?”, tanyaku sedikit penasaran.

“Iya sih Mi, tapi tadi kita habis menyelesaikan tahapan awal untuk pengecekan, jadi ya agak lama. Nggak apa-apa kan kita disini dulu?”, pinta Dina dan Zubin dengan sedikit memelas.

“Ya sudah deh, kebetulan gue juga lagi nungguin seseorang di sini.”, ucapku sambil menggelengkan kepalaku.

Kemudian aku pun kembali ke mejaku dan sambil menunggu mereka memesan makanan, aku melanjutkan membaca buku Secrets Against Friendship yang kutaruh di atas mejaku. Aku membaca secara singkat hingga bagian dimana para anggota kelompok tersebut mulai saling terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok yang pertama adalah kelompok yang sudah saling percaya satu sama lain dan berusaha menyatukan kelompok itu kembali menjadi akrab, sementara kelompok yang lain adalah kelompok yang bisa dibilang menutup-nutupi kegiatan, obrolan, dan banyak menyimpan rahasia.

Perhatianku dari buku itu seketika teralihkan ketika aku melihat sekilas bahwa anggota tim B sudah duduk kembali di tempat mereka berkumpul dan mulai makan-makan sekaligus ngerumpi. Mungkin ada sekitar satu jam mereka ngerumpi. Aku pun segera beranjak dari tempat itu setelah berhasil menyimpulkan bahwa gerak-gerik mereka memang diluar kebiasaan supervisor-ku yang lain. “Gue keatas dulu ya, usahain kerjaannya cepet beres biar bisa cepet pulang.”, ucapku kepada mereka ketika berjalan ke arah lift. Kembali di ruanganku, aku kembali duduk dan membaca berkas-berkas yang masih bertumpuk itu.

Akhirnya, setelah beberapa jam, berkas yang harus kutanda-tangani sudah beres semua. Tanpa kusadari, hari pun sudah sore. Aku mengambil briefcase dan buku bacaanku, di saat aku sudah berada di dalam Opel Costra-ku, tiba-tiba saja Theyra mengetuk kaca jendela mobilku, akhirnya aku menurunkan kaca jendelanya.

“Kenapa? Kok ngos-ngosan kayak gitu?”, tanyaku penuh keheranan.

“Waduh, ini gawat. Beberapa hard-drive database dicuri!”, ucapnya.

“Tunggu dulu, hard-drive database yang mana yang dicuri?”, tanyaku sembari turun dari mobil.

“Mayoritas yang dicuri adalah database pelanggan, dan….”,

“Dan apa?”, tanyaku penuh heran.

“…. dan log mengenai pembobolan server.”, ucapnya.

“Bangsat….. Oke, kamu hubungi keamanan gedung dan perintahkan lockdown untuk semua area gedung. Aku akan menghubungi Direktur, Presiden Direktur, dan kepolisian. Ini udah kelewat batas!”, ucapku sembari mengambil ponselku.

“Tapi, lockdown hanya bisa….”

“Yaudah, gue yang tanggung jawab! Buruan!”

Sementara Theyra berlari ke ruang keamanan gedung, aku pun menghubungi direktur dan presiden direktur. Keduanya sangat geram mengetahui ada pencurian database dan memintaku untuk menutup rapat-rapat informasi ini ke media. Meskipun geram, mereka mengapresiasi tindakanku untuk melakukan lockdown pada gedung kantor. Setelah mendapatkan ceramah yang cukup lama dari direktur dan presiden direktur, akhirnya aku pun menghubungi teman lamaku di kepolisian. Kurang lebih sekitar 35 menit kemudian, teman lamaku datang disertai dengan puluhan petugas polisi berseragam, beberapa orang detektif, petugas CSU (Crime Scene Unit), dan satu unit K-9.

Wassup bro?”, ucap Captain Palantine.

Long time no see bro…. Asyik nih sekarang udah jadi komandan Criminal Investigation Unit.”, ucapku sambil memeluk teman lamaku tersebut.

“Wah pasti dong. Oh ya Mi, ada apa nih tiba-tiba minta bantuan gue, CSU, sama K-9?”

“Ah, straight to the point, dari dulu ya lu nggak berubah Tin.”, ucapku sambil tertawa.

“Weh, harus dong bro. Kalo bertele-tele, mana mungkin gue bisa masuk CIU.”

“Yaudah deh, jadi begini ceritanya, eh tapi sebelumnya, jangan diumumin ke pers dulu ya tapi…”

“Iya tenang aja, gue nggak berani umumin ke pers kalo ada pelapor yang minta ini dirahasiain dulu. Gue paham kok sama direktur dan presiden direktur lu. Pasti lu habis diceramahin kan?”, gumamnya sambil nyengir.

“Nah tuh, lu tahu sendiri kan.”

“Baiklah, sekarang saya minta semua petugas berseragam untuk membuat pengamanan di sekitar gedung ini, pastikan semua jalan keluar dijaga. Untuk para detektif, tolong kumpulkan kesaksian dari orang-orang yang masih berada di dalam gedung. CSU dan K-9, ikut saya ke ruang penyimpanan hard-drive. Ada pertanyaan?”, ucapnya dengan lugas.

“Tidak pak! Siap laksanakan!”, jawab anak buah Palantine dengan serempak.

Setelah itu pun para petugas polisi dan detektif mulai berpencar ke seputaran gedung. Ada yang masuk ke dalam gedung, ada yang berjalan ke luar gedung. Petugas CSU dan K-9 mengikuti langkahku dan Palantine berjalan ke ruang penyimpanan hard-drive. Di dalam ruangan yang terletak satu lantai di bawah basement parkir, terdapat tempat penyimpanan hard-drive yang tingginya mentok hingga ke atap ruangan, beberapa server hardware, dan sebuah ruangan yang tertutup kaca untuk tiga orang operator. “Di sinilah letak hard-drive yang dicuri tersebut.”, ucapku sembari menunjuk ke arah beberapa slot kotak bekas tempat penyimpanan hard-drive di pojok tenggara ruangan tersebut. “Baiklah, sekarang ini adalah TKP. Tidak ada yang diizinkan menyentuh apapun tanpa seizin petugas! CSU, mulai proses TKP. K-9, do what you should do.”, ucap Palantine. Aku, Theyra, Palantine, dan petugas keamanan gedung pun mundur untuk membiarkan CSU dan K-9 bekerja. Aku pun melihat ada 2 anjing pelacak dari K-9 yang diturunkan untuk mengendus bau para tersangka. Kedua anjing tersebut memutari ruangan selama beberapa kali, sebelum akhirnya anjing itu menggonggong di dalam ruang operator. Palantine pun menghampiri petugas dan anjing tersebut. “Ada sapu tangan!”, teriaknya. Ia pun memperlihatkan sapu tangan tersebut ke arahku. Aku langsung mengetahui, bahwa itu adalah saputangan yang berasal dari pantry, siapapun orang kantor bisa mengakses dan mendapatkan sapu tangan itu. Akhirnya Palantine memerintahkan anjing pelacak untuk mengendus sapu tangan tersebut untuk mencari pemiliknya. Beberapa saat kemudian, anjing pelacak itu kembali beberapa kali memutar ruangan dan keluar dari ruang server. “Sebaiknya lu ikut.”, ucap Palantine kepadaku. “Oke. Ra, pastiin mereka nggak nyentuh barang yang aneh-aneh, bisa dimarahin direktur nanti gue.”, ucapku kepada Theyra untuk memastikan agar CSU tidak menyentuh hal-hal yang bisa menyebabkan seluruh server dan jaringan mati.

Tanpa memperdulikan apa reaksi Theyra, aku, Palantine, dan 2 orang petugas keamanan gedung mengikuti petugas K-9 serta sang anjing pelacak. Mula-mula, anjing pelacak itu mendatangi tempat check-in karyawan, kemudian ia bergerak menuju kantin. Ia sempat berhenti di sebuah meja, kemudian terus naik ke atas dan pada akhirnya ia berhenti di lantai 8. Setelah berhenti sejenak di lantai 8, ia pun berjalan mengitari ruangan, dan kemudian mengonggong di sebuah meja, dan tanpa kuduga, itu adalah meja dimana Tim B berkumpul. Beberapa saat kemudian, satu lagi anjing pelacak datang, mengitari ruangan, dan menggonggong di meja yang sama.

“Ini sudah cukup untuk menentukan tersangka. Pelakunya adalah orang yang duduk di meja ini.”, ucap Palantine.

“Tapi, hari ini meja ini dipake buat ngumpul sama sekitar 10 orang.”, ucapku.

“Waduh, ada 10 tersangka kalo gitu. Lumayan lah daripada nggak dapet sama sekali.”, balasnya.

Tiba-tiba, Leishter datang entah dari arah lift, aku yang melihatnya pun langsung memanggilnya ke arahku. Tiba-tiba, para anjing pelacak menggonggong. Gonggongan itu semakin keras ketika Leishter mendekat ke arah kami. Palantine pun langsung memegang holster-nya. “Tenangkan anjing kalian… Baiklah nona, sekarang apa anda bisa mengangkat tangan anda dan menghadap ke tembok?”, perintah Palantine kepada Leishter. Leishter berusaha mengelak, tetapi ia sulit untuk melakukannya karena petugas keamanan gedung sudah memblokir jalan keluar dari ruangan ini. “Leishter…. Gua nggak percaya….”, gumamku. Akhirnya Leishter pun menurut dan mengangkat tangannya sembari menghadap ke tembok. “Panggilkan polwan kemari, segera!”, ucap Palantine sembari menodongkan Pistol Glocknya ke arah Leishter. Tanpa kami duga, Leishter pun mulai menangis. “Loh, loh, kenapa lagi nih?”, ucapku dengan sedikit kepanikan. “Yaelah bro, ini cuman trik. Biasa ini kalo tersangka cewe pasti nangis dulu, buat ngambil simpati.”, balas Palantine. Seorang polwan pun datang dan mulai menggeledah Leishter. Ia pun mulai menggeledah Leishter secara teliti dari kepala hingga kaki. Penggeledahan pun selesai dalam waktu kurang dari 2 menit.

“Nggak ada apa-apa di badannya pak, saya bisa pastikan itu.”, ucap sang polwan.

“Kamu yakin?”, ucap Palantine dengan ekspresi sedikit heran.

“Yakin seratus persen pak. Tidak ada benda mencurigakan, apalagi yang berbentuk hard-drive atau kubus, atau sejenisnya.”, ucap polwan mempertegas pernyataannya.

“Baiklah, nona Leishter, atas nama Kepolisian Kota Bahamas, anda kami tahan atas tuduhan pencurian hard-drive milik perusahaan. Anda memiliki hak untuk diam, setiap perkataan yang anda katakan akan digunakan untuk melawan anda di pengadilan. Anda memiliki hak untuk memanggil pengacara anda dan jika anda tidak mempunyai pengacara, maka Kota Bahamas akan menyediakan pengacara publik untuk anda. Apakah anda mengerti hak anda?”, ucap Palantine dengan tegas.

“Iya, saya paham dan mengerti.”, Leishter mengangguk lemah sambil menangis kecil. Ia pun diborgol oleh polwan yang menggeledahnya.

“Waduh… Nggak bisa ya Tin interogasinya dilakuin di sini?”, tanyaku sambil menggaruk kepalaku.

Sorry bro, tapi ini prosedur standar. Nggak bisa dilakuin di sini, apalagi bukti yang ada sampai saat ini mengarah ke dia. Maaf banget nih.”, balas Palantine.

“Ya sudah kalau begitu.”, ucapku dengan ekspresi sedikit sedih.

Akhirnya Leishter pun digiring keluar dengan borgol. Semua karyawan yang masih ada di lobi gedung cukup kaget ketika melihat Leishter terborgol dan digiring oleh dua orang polwan, aku, dan Palantine. Theyra pun termasuk orang yang kaget, ia pun berusaha menghampiri Leishter yang telah berada di bangku belakang mobil polisi Dodge Charger Interceptor berwarna putih. Meski berusaha ditahan oleh 1 orang petugas, tapi Theyra pun tetap berusaha mendekati. “Biarkan ia mendekat, tapi tutup pintunya.”, ucap Palantine. Setelah pintu ditutup, Theyra pun mendekat dan bertanya, “Mengapa kamu tega melakukan ini?”. “Maafkan aku… maafkan aku, maafkan aku…”, ucap Leishter sambil menangis, dan memang hanya kata itulah yang terlontar dari mulut Leishter, sang wanita-cenderung pemurung-nan-pendiam-yang sempat kukagumi karena dedikasi kerjanya. Theyra pun akhirnya menggelengkan kepalanya dan mendekatiku.

“Kalo sampe hard-disk itu nggak pada balik ke tangan kita, tamat nasib kita dan perusahaan. Apalagi kalo sampe media tahu, habislah hidup kita.”, ucap Theyra dengan cemas.

“Itulah makanya kenapa gue manggil Captain Palantine buat beresin situasinya.”, ucapku sembari menenangkan Theyra.

“Tenang saja, gue akan berusaha sekuat mungkin biar karir gue, elu, dan orang-orang baik yang ada di perusahaan ini, terutama bawahan gue, tidak terancam oleh kacung-kacung kampret itu.”, lanjutku.

Pada akhirnya aku pun pulang kembali ke dalam flat-ku. Kemudian aku berdoa, “Oh Tuhan, apa yang ingin engkau tunjukkan dengan semua kejadian ini? Apakah ada sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan? Atau…. Ah yang penting, tolonglah aku dan para kawan-kawanku. Aku tidak ingin mereka dan keluarganya menderita karena kehilangan pekerjaan.”. Meskipun aku bisa tidur, tetapi tidurku merasa tidak nyenyak memikirkan kejadian tadi.

 

**

Tepat dua hari setelah pencurian tersebut terjadi, rumor mulai tersebar dan terendus ke media. Meskipun ditekan media, aktivis transparansi, dan bahkan beberapa pejabat pemerintahan, akan tetapi presiden direktur, para jajaran direktur, serta jajaran wakil direktur tetap tidak bergeming untuk melakukan klarifikasi terhadap isu tersebut. Aku pun tidak bergeming ketika Opel Costra ku dicegat oleh puluhan wartawan di pintu masuk gedung parkir kantor. Aku pun masuk kembali ke ruangan kerjaku seperti biasa. Namun yang membedakan dari dua hari sebelumnya, pada hari ini anggota tim B benar-benar tidak hadir, tanpa kabar ataupun izin apapun. Pada dua hari sebelumnya, hanya 1 hingga 3 orang anggota tim B yang meminta izin karena sakit, bahkan surat dokternya pun masih ada di mejaku. Karena merasa curiga, akhirnya pada saat jam makan siang aku meminta izin ke direktur. Setelahnya, aku mendatangi kantor pusat kepolisian kota dan berusaha menemui Palantine.

Aku dibawa ke dalam sebuah ruangan di lantai 10 gedung tersebut dan langsung duduk di sebuah sofa dekat lemari kayu yang cukup tinggi. Meski dari luar terlihat seperti ruangan beton, akan tetapi ketika masuk ke dalamnya, akan terlihat bahwa ruangan itu terbuat dari kayu yang dipernis sangat indah. Pada tembok belakang kursi kerja Palantine, terdapat lambang kepolisian kota digantung bersama dengan foto Chief of Police dan Deputy Chief of Police yang digantung di sisi kiri dan kanan lambang tersebut. Sementara di atas meja kerjanya, terlihat sebuah layar LCD baru dan sebuah wireless keyboard. Terlihat juga beberapa kertas, alat tulis, dan sebuah papan nama yang bertuliskan “Captain Ray B. Palantine – Head of CIU”. Suasana di ruangan itu cukup cozy menurutku, hanya agak sedikit berantakan dengan beberapa kardus tumpukan berkas. Pengamatanku atas ruangan tersebut terhenti seketika ketika ada seseorang yang membuka pintu.

“Rami? Tumben ada di sini.”, ucap Palantine dengan sedikit kaget.

Aku hanya tertawa ringan saja menanggapi Palantine.

“Kebetulan juga nih, tadinya gue mau nelepon elu malah, ada hal penting.”, ucap Palantine sembari duduk di kursinya dan mempersilakanku untuk duduk di kursi depan mejanya.

“Memangnya kenapa? Soal kasus itu? Atau yang lain?”, tanyaku sedikit heran.

“Iya, soal kasus itu. Jadi gini, mengenai tersangka err, nona Leishter, waktu pertama kali dibawa ke dalam ruang interogasi dia mengakui semuanya. Namun, ada yang janggal dalam keterangannya dan tidak sesuai dengan bukti yang kami temukan. Akhirnya, setelah jaksa wilayah memutuskan bahwa testimoninya sudah cukup untuk mengajukan tuntutan ringan, gue dan jaksa kemudian memutuskan untuk mengambil keterangan darinya untuk kedua kali. Tetapi pada saat akan dimintai keterangannya tadi pagi, ia malah menangis dan beberapa kali mengatakan ‘Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku’ sambil menangis. Setelah sekitar seetengah jam kita biarkan dia, akhirnya kita mencoba untuk mengambil keterangannya lagi, tetapi…”

“Tetapi apa?”, ucapku penuh rasa penasaran.

“… tetapi dia hanya ingin berbicara kalau ada elu Mi.”, ucap Palantine.

“Seriusan? Yaudah kalau gitu, langsung aja. Biar cepet kelar prosesnya. Lelah aku menghadapi tekanan berbagai pihak luar.”, jawabku sambil beranjak dari kursi empuk itu.

“Yasudah, ayo.”

Akhirnya aku dan Palantine pun berjalan menuju ruang interogasi yang terletak di lantai 2. Aku pun terus berpikir, “Ada apa ini? Kok tiba-tiba dia pengen gue ada pas dia ngomong. What happened here?”. Selama ini memang aku sering menduga bahwa ia sering melirikku meski hanya sebentar, entah kenapa.

Pada akhirnya, kami berdua sampai dan masuk ke dalam ruang interogasi. Leishter sudah ada di sana, menundukkan kepalanya ke bawah dalam keadaan terikat ke meja dengan borgol. Ruangan interogasi ini kedap suara dan terdapat sebuah cermin tembus pandang di seberang Leishter. Dengan tembok warna gelap dan lampu yang tidak terlalu terang, sudah memberikan kesan cukup mengintimidasi bagi siapapun yang diinterogasi di ruangan ini. “Nona Leishter, ada seseorang yang ingin berbicara denganmu.”, ucap Palantine. Leishter pun menaikkan kepalanya dan melihat ke arah Palantine, kemudian melihat ke arahku. Aku melihat mukanya telah sayu dan lemas. Aku menduga bahwa itu adalah akibat ia harus menghadapi semua metode interogasi manusiawi yang mungkin dikeluarkan oleh kepolisian yang belum pernah ia alami sebelumnya.

“Maafkan aku! Maafkan aku!”, teriak Leishter sembari menangis dan memohon kepadaku.

“Tentu saja, bahkan semenjak kau ditangkap, aku sudah memaafkan dirimu, Leishter. Sekarang satu hal yang masih mengganjal di hatiku, kenapa kamu mau melakukan hal ini?”, tanyaku penasaran.

“Sebenarnya…..”, ia menghela nafas.

“Tunggu dulu! Siapkan perekam!”, ucap Palantine.

“Nggak apa-apa kalo pernyataanmu ini direkam?”, tanyaku pada Leishter.

“Nggak apa-apa. Aku baru mau menyatakan semuanya ketika kamu telah memaafkanku.”, ucapnya lirih.

“Baiklah, silakan dimulai.”, ucap Palantine sambil mempersilakanku duduk di sebelahnya.

“Pada awalnya, kami bersepuluh adalah teman akrab semenjak awal masuk kantor. Tetapi setelah naik pangkat menjadi supervisor, aku mulai melihat ada yang aneh dengan perilaku Zubin dan Gash. Tapi setelah aku dan teman-temanku mengonfrontir mereka berdua, mereka menyatakan alasannya.”

“Memang apa alasannya?”, tanya Palantine.

“Mereka berusaha menemukan siapa orang yang meneror orang tua mereka hingga menyebabkan kematian orang tua mereka berdua.”

“Hmm, mungkinkah itu Nightmare Caller?”, tanya Palantine lagi.

“Entahlah, aku tidak tahu. Awalnya aku tidak setuju, tapi pada akhirnya aku dipaksa untuk membantu mereka untuk membobol jaringan, dan ketika Rami mulai menyelidiki hal tersebut, mereka panik. Terutama setelah Theyra masuk untuk mengawasi kerja kami. Sebenarnya aku tidak tahan, tapi aku merasa kasihan juga kepada mereka, dan sebenarnya aku kembali ke kantor malam itu pun atas perintah mereka untuk mengambil barang yang tertinggal.”, ucap Leishter lirih.

“Hmm, baiklah kalau begitu. Temanku ini pasti nggak tahan liat lu menderita. Liat aja ekspresinya.”, ucap Palantine untuk mencairkan suasana.

“Bah, enak saja kau. Memang ada apa dengan ekspresiku?”, ucapku kepada Palantine dengan agak kesal.

“Baiklah nona, jika kau setuju untuk bersaksi melawan… siapa itu temanmu.. ah ya, Zubin dan Gash, mungkin aku bisa meminta jaksa penuntut untuk meringankan vonis atau bahkan mencabut vonismu. Bagaimana, setuju?”, ucap Palantine.

“Baiklah, aku akan bersaksi.”, ucap Leishter setelah berpikir beberapa detik.

“Oh ya sebelumnya, Leishter. Apakah kamu tahu dimana mereka bersembunyi?”, tanya Palantine.

“Entahlah, mungkin mereka bersembunyi di sebuah kabin di dekat Quiet Hill, sebelah utara kota. Di sana tempat kami biasa berkumpul kalau liburan.”, ucap Leishter.

“Baiklah kalau begitu. Mi, gue keluar dulu ya, mau beresin mereka semua.”, ucap Palantine.

“Oke, asal jangan lupa bawa mereka ke muka gue sebelum lu ambil pernyataannya nanti.”, ucapku sambil tersenyum.

“Okeee, sip laah.”, ucap Palantine sambil menutup pintu.

Setelah itu datang seorang polisi melepaskan borgol Leishter. Aku pun membawa Leishter ke kantin kepolisian. Suasana kantin itu mirip seperti kantin di kantorku. Mungkin yang membedakan hanyalah suasana klasik yang ada di kantin tersebut dan belasan petugas yang berseliweran di dalam kantin tersebut. Aku pun memesan makanan dan minuman untukku dan untuk Leishter. Leishter pun mulai makan dengan lahap dan untuk pertama kalinya selama aku bekerja dengannya, aku bisa melihat senyumnya. “Oh God, how gorgeous she is.”, pikirku.

“Eh ya, by the way, kenapa lu pengen gue yang ada di hadapan lu pas bersaksi?”, tanyaku berusaha membuka percakapan dengannya.

“Sebenernya….. Sepertinya kamu lupa ya?”, jawabnya dengan muka memerah.

“Lupa dengan?”, tanyaku penuh heran.

“Ingat nggak sih, 9 tahun yang lalu, kamu…”

“Tunggu dulu? 9 tahun yang lalu? Aku nggak inget apa-apa tentang 9 tahun yang lalu. Kata orangtuaku, aku mengalami kecelakaan dan aku hanya mengingat samar-samar mengenai kejadian itu.”, ucapku.

“Sepertinya aku harus cerita sedikit ya biar mengingatkan… 9 tahun yang lalu, kita pertama ketemu di Rosewood Park. Waktu itu kita berdua sedang piknik bareng keluarga masing-masing. Nah, waktu itu aku mengejar balonku ke tengah jalan, lalu…”

“Tunggu dulu….. kalau perempuan kecil itu kamu, berarti….. Ah!”, ucapku sambil menahan kepalaku karena rasa pusing yang mendera tiba-tiba.

“Lah, kamu kenapa?”, ucap Leishter dengan sedikit panik.

“Tidak apa-apa, aku hanya…. teringat… sesuatu….” Ucapku.

Beberapa saat aku terus memegangi kepalaku, sehingga Leishter terlihat agak panik. Karena perilakunya, Leishter menarik perhatian waitress dan beberapa petugas yang ada di sana. Ketika petugas menawarkan bantuan untuk memanggil paramedis, aku pun menolaknya dengan halus. Sekitar 30 detik kemudian, pusingku telah hilang. Akan tetapi…. apa ini? Aku kembali mengingat sesuatu…. Yaa, gadis kecil itu, dengan kipas lipat… ah! Ternyata! Aku pun kemudian bangkit kembali dan duduk. Dengan halus aku mengatakan kepada waitress dan beberapa petugas yang mulai terlihat panik bahwa aku baik-baik saja dan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Akhirnya mereka pun kembali beraktivitas seperti biasa.

“Leishter…”

“Ya, Rami?”, jawabnya dengan terheran-heran.

“Tolong lanjutkan ceritamu itu.”, ucapku.

“Nah, waktu aku mengejar balonku ke tengah jalan, kamu sedang bermain bersama kakakmu. Tiba-tiba saja, ada suara sirene yang cukup kencang….”

“Setelah itu, aku pun bergerak untuk mendorongmu dari mobil yang dikejar polisi dan yang akan menabrakmu. Setelahnya, aku pun didorong oleh kakakku dan aku langsung menghantam jalan dan tidak sadarkan diri…”, ucapku.

“Aku selamat, tapi kamu terluka parah dan kakakmu meninggal di tempat…. Maafkan aku.”, ucap Leishter lirih.

“Tidak perlu meminta maaf, itu kan bukan salahmu. Lagian juga itu salah orang mabuk itu kan?”, ucapku mencoba menghibur Leishter.

“Setelah itu kau berada di rumah sakit selama beberapa hari dengan jahitan di tangan. Aku tidak sempat menanyakan namamu dan hanya sempat memberikanmu sebuah kipas lipat berwarna hijau. Masih ingat?”, ucap Leishter.

“Ya…. Aku di Rumah Sakit entah berapa hari. Setelah aku pulang, aku sudah lupa akan semua itu…..”, ucapku lesu.

“Tapi aku tidak. Aku tidak akan pernah melupakanmu, orang yang telah bisa membuatku jadi seperti ini, orang yang telah membuat hidupku bisa berlanjut hingga detik ini, dan orang yang sangat kucintai seumur hidupku.”, ucapnya penuh kebahagiaan.

“Benarkah itu? Sejak kapan?”, tanyaku penuh heran.

“Semenjak hari itu, aku terus berusaha mencarimu. Baik SMP, SMA, bahkan sampai lulus kuliah, aku berusaha mencarimu. Tapi ternyata, tidak semudah seperti di film ya mencarimu?”, ucapnya dengan sedikit tertawa.

Aku pun ikut tertawa.

“Dan semenjak aku masuk kantor dan melihat bekas jahitan aneh di tangan kananmu, aku langsung tahu bahwa anak yang telah menyelamatkanku adalah dirimu.”, ucapnya dengan bahagia.

“Kenapa tidak terus terang saja kalau begitu?”, tanyaku lagi.

“Aku tidak ingin mengganggumu, karena sepertinya kamu sudah akrab dengan Theyra dan sepertinya, ia menyukaimu. Aku tidak mungkin bisa menyaingi Theyra kalau memang dia menyukaimu.”, ucapnya lesu.

“Hah? Theyra?”, aku tertawa.

“Tentu tidak Leishter, Theyra hanyalah sahabatku, dan dia akan menikah dengan orang lain dalam beberapa bulan kedepan. Duh, ada-ada saja kau ini.”, ucapku sambil tertawa ringan.

“Benarkah itu?”, ucapnya.

“Ya iya lah, masa ya iya dong. Nih ya, meskipun Theyra single, tetep saja aku nggak suka dia, bukan tipeku. Malah justru aku penasaran denganmu, selalu melirik diam-diam saat rapat, bonding, atau kegiatan lainnya. Hayooooo….”, ucapku sambil tertawa.

“Udah ih, jangan gitu lah…”, ucapnya tersipu malu.

Setelah itu, kami terus berbincang selama kurang lebih 30 menit, dan inilah pertama kalinya aku bisa benar-benar bahagia berbicara dengan wanita misterius yang selalu melirikku hampir di setiap kesempatan. Namun, kebahagiaan yang baru kudapatkan kali ini terganggu dengan sebuah telepon. Di layar smartphone-ku. Ya, Palantine meneleponku dan memintaku untuk segera datang ke Quiet Hill, karena Zubin dan Gash berlindung di kabin dengan persenjataan berat. Aku pun menitipkan Leishter kepada petugas di kantor kepolisian. Aku tidak ingin lagi kehilangan orang yang berharga bagiku.

45 menit perjalanan ke Quiet Hill dengan diantarkan beberapa orang petugas kepolisian. Ketika aku tiba di depan komplek kabin tersebut, terlihat banyak petugas taktis dari kepolisian kota dan kepolisian provinsi bersiaga. 2 APC (Armored Personnel Carrier), 12 Tactical Enforcer hitam bertuliskan POLICE – STAT (Special Tactical and Assault Team), dan puluhan mobil polisi membentuk pengamanan berlapis mengelilingi kabin tersebut. Terlihat juga 1 helikopter polisi dan 1 Eurocopter Tiger Attack Helicopter mengitari kabin tersebut dari udara. Petugas yang mengantarkanku pun langsung memberikanku helm dan rompi anti peluru dengan tulisan POLICE di depan dan belakangnya. Kemudian seorang petugas STAT menggiringku ke arah Palantine berada.

“Buset dah, ini mau nangkep tersangka apa teroris? Kok rame amat? Sampe ada helikopter militer segala lagi…”, ucapku.

“Sebenernya gue juga nggak mau, tapi komandan gue yang manggil itu heli sama bantuan sebanyak semut ini. Ni perempuan-perempuan di dalem pake bawa RPG segala lagi, mobil gue ampir ancur tadi.”, balas Palantine dengan terengah-engah.

“Mereka minta dua permintaan, yang pertama mereka minta lu dengar penjelasan mereka. Kedua, mereka minta Nightmare Caller ditangkap berdasarkan data mereka. Tapi mereka mau ngasih datanya setelah lu bicara.”, lanjut Palantine.

“Eh buset dah. Harus gue banget?”, ucapku kaget.

“IYA! HARUS ELU! Buruan! Sebelum kita-kita pada mati ditembakin RPG!”, ucap Palantine.

“Yaudah deh.”, ucapku.

“Baiklah! Tolong jangan tembak! Orang yang kalian minta untuk datang sudah ada disini! Ia akan masuk, tanpa senjata! Tolong tahan tembakan kalian! Para petugas, saya harap jangan menembak kecuali diperintahkan! Helikopter tolong tetap awasi dengan jarak aman! Jangan melakukan tindakan apapun tanpa perintah saya!”, ucap Palantine di loudspeaker. Aku pun mulai berjalan dari belakang Enforcer sambil mengangkat tanganku. Rasa tegang dan keheningan pun kurasakan, “Apakah aku akan mati di sini? Maafkan aku jika mati di sini, Leishter.”. Dengan rasa tegang yang amat sangat, aku pun memasukki kabin bercat putih tersebut. Begitu masuk ke dalam, aku ditodong oleh senapan serbu M-16 oleh Zubin. “Anjir, gila juga lu. Ternyata selama ini…”. BUK! Kepalaku dihantam dari belakang oleh seseorang, yang bukan lain adalah Gash. “WOY! GILA LU YE! KALO GUE MATI LU PADA DITEMBAKIN ITU HELIKOPTER! Mukulnya pelan dikit ngapa! Duh.”, teriakku sambil memegangi kepalaku. “Berisik! Bacot banget lu!”, teriak Zubin. Di dalam ruangan itu aku melihat ada 5 orang yang diikat di pojok ruangan. Kemudian aku pun duduk bersandar pada tembok kabin.

“Kenapa lu pada lakuin ini semua? Bahkan temen lu yang udah bantuin lu bobol server lu iket juga?”, tanyaku penuh lelah.

“Kalo mau jujur ya, wahai pak wakil direktur, dari awal sebenernya gue sama Gash udah kurang suka sama ini perusahaan, polisi, maupun pemerintah. Mau tau kenapa? NGGAK ADA YANG SERIUS BUAT BANTUIN KITA NANGKEP PEMBUNUH ORANG TUA KITA! Polisi? Ah, bullshit! Pemerintah? Apalagi. Perusahaan sialan ini? APALAGI! Nggak mau bantu kita sama sekali! Makanya semenjak itu kita putuskan untuk balas dendam dengan cara kita sendiri, yaitu dengan masuk ke dalam perusahaan ini dan mempersiapkan semuanya untuk mendapatkan bukti siapa yang udah ngebunuh orang tua kita berdua.”

“Kenapa perusahaan ini?”, tanyaku.

“Karena pernah ada detektif polisi yang bilang ke ayah angkatku, bahwa kasus orang tua kita stuck di perusahaan ini, dan ia nggak bisa ngelanjutin penyelidikan tanpa blablabla, bullshit!”, ucap Zubin dengan ekspresi marah.  

“Selain itu ya, lu harus tahu, mereka yang kita iket itu adalah orang-orang yang ga sependapat dengan kita! Mereka pengen ini diakhiri dan menyerahkan diri ke polisi! Orang tolol mana yang mau menghancurkan temannya sendiri dengan membantu pihak yang kita lawan? GA ADA!”, teriak Gash dengan emosi tinggi.

“Jadi ini rahasia yang kalian semua sembunyikan semenjak awal bekerja. Terus kenapa kalian tidak bilang ke kita semua waktu bonding? Kita bisa bantu kalian berdua, bahkan gue bisa manggil kepala detektif kepolisian kota untuk membantu…”

“AH BULLSHIT!”, teriak mereka.

“Kalian, sudah terlalu jauh….”, ucap salah satu wanita yang diikat dengan suara lemah.

“Jauh? Ini belum selesai!”, maki Zubin sambil berjalan ke arah wanita tersebut.

Tiba-tiba saja, smartphone ku bordering. Zubin mengambilnya dan membacanya: FROM: “Ray Palantine – BCPD” – TEXT: Maaf Rami, tapi komandanku sudah kehabisan kesabaran dan memerintahkan kabin itu untuk diledakkan oleh Eurocopter. Bro, kalo lu ga bisa selamat dari kabin itu, gue harap lu tahu bahwa elu adalah best bro yang pernah gue punya dari kecil.

“Anjir apa ini? Kok detektif polisi cengeng amat. Pake bro-bro-an segala, cengeng!”, ucap Zubin sambil melempar smartphone milikku.

“HAPE GUE! JANGAN DILEMPAR! Ah, kampret.”

“Baiklah, datanya sudah kita dapat bukan?”, tanya Zubin.

“Sudah, sebaiknya kita segera lari dari sini.”, jawab Gash.

Kemudian, dua orang kawanan Gash dan Zubin kabur lewat sebuah basemen terlebih dahulu. Terlihat Zubin dan Gash siap untuk mengeksekusi semua orang yang ada di kabin itu. Mungkin karena aku sudah merasa pasrah, akhirnya aku hanya mengharapkan bahwa aku harus mati dengan terhormat. Ya, mati dengan sebuah perlawanan itu sudah cukup bagiku apabila kemungkinan hidup sudah dibawah 1%. Dengan rasa kesal, aku pun bangkit, mengambil kursi, dan menghantam Zubin dan Gash. Kami bertiga pun bergulat cukup ekstrim. Sampai akhirnya, tanpa kusadari, aku sudah melumpuhkan kaki Zubin dan Gash dengan pistol Glock yang entah kudapat dari mana.

Kulihat Eurocopter Tiger sudah berada dalam posisi untuk menembakkan misilnya. “Sudah tidak mungkin untuk meminta pembatalan tembakan ya….”, gumamku. Akhirnya, dengan tertatih-tatih aku mengambil pisau dan memotong tali yang mengikat para wanita tersebut. Kusuruh mereka mengambil hard-disk dan laptop. Sementara sebagian lagi kuminta untuk membantuku menggotong Zubin dan Gash. Kami semua akhirnya berhasil masuk ke dalam terowongan bawah tanah yang ada di kabin tersebut tepat saat Eurocopter Tiger menembakkan 3 misilnya (aku mendengar 3 ledakan beruntun) ke kabin dan menghancurkan kabin tersebut seketika. Akhirnya terowongan tersebut membawa kami ke sebuah saluran pembuangan.

Setelah beberapa menit aku berada di dalam saluran pembuangan, aku melihat dua orang kawanan Zubin dan Gash. Mereka pun berusaha menodongku, tetapi begitu tersadar bahwa senapan serbu AK-47 mereka rusak oleh air, mereka menawarkan kesepakatan untuk menukar Zubin dan Gash dengan kebebasan kami. Melihat tidak ada opsi lain, akhirnya kami sepakat dengan catatan, hard-disk yang berisi data pelanggan dibawa oleh Zubin dan Gash sementara kami berhak mendapatkan data mengenai Nightmare Caller.

Kurang lebih 2 jam kami menyusuri saluran pembuangan, akhirnya kami melihat sebuah cahaya. Kami pun bersemangat kembali dan setelah berhasil keluar dari saluran pembuangan, diluar dugaan kami, puluhan petugas STAT, polisi berseragam, dan belasan mobil polisi telah memblokir jalan keluar dari saluran tersebut. Di sana pula aku melihat Palantine keluar dari Dodge Charger-nya. Ia pun mengambil mikrofon dan kemudian berteriak di loudspeaker, “POLISI! Kalian sudah terkepung! Bebaskan sandera dan jatuhkan senjata kalian! TIDAK ADA TOLERANSI!”. Pada akhirnya, Zubin, Gash, dan kawanannya menyerah seketika. Para wanita yang disandera pun akhirnya digiring petugas. Aku pun dilarikan ke rumah sakit.

 

**

Beberapa hari kemudian, Nightmare Caller ditangkap. Ternyata ia adalah wakil ketua dewan kota. Ia menjadi Nightmare Caller ketika ia merasa senggang dan/atau depresi. Presiden Direktur perusahaanku pun akhirnya ditangkap karena berkomplot untuk menjaga identitas Nightmare Caller dengan imbalan kemudahan untuk mendapatkan proyek kota. Perusahaanku pun didemo besar-besaran oleh warga kota. Hampir semua jajaran direktur mengundurkan diri secara berurutan yang dimulai sejak beberapa bulan setelah presdir ditangkap. Zubin, Gash, dan dua kawanannya pada akhirnya dijatuhi hukuman 50 tahun penjara karena tuduhan pencurian properti publik, kepemilikan senjata secara illegal, konspirasi melakukan kejahatan, dan mengganggu ketertiban umum. Sementara sisa anggota tim B? Kecuali Leishter, mereka dihukum selama 6 bulan penjara dan 1 tahun pelayanan publik atas tuduhan berkomplot untuk melakukan pencurian. Hukuman mereka dikurangi karena mereka mau bersaksi melawan Zubin dan kawanannya. Sementara Leishter? Ia hanya diganjar hukuman 1 bulan penjara dan 6 bulan pelayanan publik karena ia mau bersaksi untuk melawan teman-temannya. Aku sendiri? Mungkin mengalami promosi singkat yang tidak terduga. Dalam 1 tahun setelah kejadian itu, aku berhasil dipromosikan menjadi direktur operasional perusahaan dan nama baik perusahaan tempat ku bekerja sudah pulih kembali, bahkan akan melakukan ekspansi besar-besaran ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Mungkin pertanyaan yang masih mengganjal di pikiran kalian, bagaimana hubunganku dengan Leishter? Hmm, kalo itu sih….

 

***

… aku merasa ada yang menampar kepalaku. Mengingat aku terakhir tadi berada di mobil, aku pun terhentak dan langsung membuka mataku. “Ayo, siap-siap jalan. Yang di depan udah mulai pada maju tuh.”, ucap wanita di sampingku. “Yaelah, nyantai aja kali sayang. Mesinnya ga mati juga kan?”, balasku. “Iya sih.”, ucapnya. Aku pun melihat ke arah jam dashboard, 12.48. Berarti sudah sekitar satu jam aku tertidur. Akhirnya aku pun menekan pedal gas dan Chevrolet Corvette ku kembali berjalan di atas jalan aspal. Sekitar 45 menit kemudian, aku sampai di Balai Kota Bahamas. Sebelum aku turun, aku melihat sebuah buku sekuel dari Secret Against Friendship. Aku pun jadi teringat tentang buku itu. Oh ya? Aku belum menceritakan akhir buku tersebut ya? Jadi begini, setelah kelompok itu bertengkar hebat selama kurang lebih 1 bulan, akhirnya salah satu kelompok memutuskan untuk mengumpulkan secara paksa semua anggota kelompok dan pada akhirnya, kelompok tersebut berhasil menyelesaikan masalahnya dan pada akhirnya mereka bisa saling mempercayai satu sama lain. Aku pun teringat pada kata-kata terakhir buku tersebut, “It is necessary to have secrets. However, if you want an everlasting friendship, you should line-out and solve your problem with them instead of keeping it as secrets. Or the harder way, forgive it. I know that forgiveness of a person’ fault is not easy. Unfortunately, that is the only option available other than solving it together with openness and kindness that you and your buddy have. In conclusion, secrets not only could become an enemy of your friendship but also could become something that strengthen your friendship.”

Ketika aku turun dari Corvette-ku, petugas valet langsung memarkirkan kendaraanku di belakang balai kota. Direktur Pemasaran, Renee Calloin, menyambut aku dan istriku dengan hangat. Ketika masuk ke dalam gedung, terlihat ruangan sudah dihiasi dengan karpet merah dan ornamen hias yang indah dipandang mata. Di layar terpampang video yang menunjukkan bendera negara yang berkibar, profil perusahaanku, dan profil yayasan amal. Aku dan istriku duduk di meja yang telah disediakan. Sesaat kemudian, datang seseorang menggunakan seragam polisi yang biasa digunakan untuk upacara, lengkap dengan berbagai ornamen seragam tersebut. Orang tersebut pun melepas topi polisinya dan duduk di hadapanku serta istriku. “Good afternoon, Mr. Suwani. Good afternoon, Lady Suwani.”. “Gausah sok formal, mentang-mentang udah jadi Chief of Police lu ye.”, balasku. “Ah, udah kebiasaan, sedikit formal nggak apa-apa kan?”, balas Palantine sembari tertawa.

Sekitar 45 menit kemudian, MC membuka acara tersebut dan kemudian MC pun berkata, “Ladies and gentlemen, kita sambut seorang dermawan yang telah mendirikan yayasan kanker ini, mari kita sambut, CEO of Global Telecom dan istrinya, Mr. Rami Suwani dan Mrs. Theyra Suwani!”. Tepuk tangan meriah pun menghiasi ruangan itu dan aku bersama istriku naik ke atas podium. “Selamat siang saudara-saudara. Sebelumnya mari kita bersyukur kepada Tuhan, karena karunia-Nya lah kita bisa berada di sini, untuk menyumbangkan apa kelebihan yang kita punya kepada yang membutuhkan. Tentu saja, saya di sini ingin mendedikasikan terlebih dahulu pendirian yayasan ini terhadap istri saya yang cintanya tidak akan tergantikan yang telah pergi mendahului saya 8 bulan lalu karena kanker, yaitu Leishterku tercinta…”

Advertisements

Ketika Kamu Berada di Sisiku

Aku terduduk lemas di ujung kursi panjang berwarna merah yang terus bergerak menuju ke arah Stasiun Bawah Tanah Jefferson. Sudah lebih dari setengah hari aku kembali dari wilayah kering kerontang yang berwarna kecoklatan di utara kota ini. Begitu terdengar suara wanita yang sudah umum kudengar hampir setiap hari di speaker stasiun itu, akupun berjalan keluar dari balok besi besar tersebut kemudian melangkahkan kakiku menuju ke tempat dimana segalanya terjadi. Ya, benar sekali. Sebuah kota metropolitan yang besar dengan dinamikanya, memberikan kenangan besar dan juga menuntut kecepatan penghuninya untuk terus bergerak memenuhi deadline tugas mereka masing-masing demi keluarga mereka yang ditinggalkan sementara waktu. Tetapi, untuk hal yang terakhir kusebutkan (bagian keluarga), rasanya tidak berlaku bagiku. Mungkin lebih tepat jika, disebut sebagai orang istimewa di hidupku. Ya, seseorang yang istimewa bagiku dan hidupku.

***

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya ketika daun-daun mulai berjatuhan, aku datang ke kota ini. Ya, aku datang atas perintah US Marshal untuk membantu menyelesaikan kekacauan administratif yang terjadi pada kepolisian kota ini. Yah, memang sungguh sambutan yang kurang ramah dari para petugas berbaju hitam itu. Tapi apa mau dikata? Itulah sambutan dalam hidup. Kadang diawali dengan senyuman, kadang diawali dengan cercaan dan makian. Begitupun akhirnya, tidak semuanya berakhir happy ending layaknya cerita dongeng-dongeng klasik yang selalu dibacakan kepada balita yang ingin tidur.

Akhirnya, setelah melewati deretan panjang meja yang penuh dengan tumpukan kertas yang tidak teratur, aku pun memasukki sebuah ruangan. Ruangan itu, jauh berbeda dari keadaan di luarnya. Tertata rapi dengan beberapa bunga yang kurasa itu Lavender atau sejenisnya disertai dengan beberapa meja yang di atasnya ada layar LCD terbaru. Aku pun melirik ke salah satu meja itu. Di sana, terduduk dengan tenang sambil mengetik berkas yang aku tidak perhatikan (mungkin hanyalah berkas rutin kepolisian). Kemudian, aku lirik sedikit papan nama hitam yang ada di samping layar LCDnya. ‘Secretary – Leonia Angellista’. Begitulah nama yang tertera pada papan nama tersebut. Kemudian, aku pun menyapanya, “Selamat siang, nona….. Angellista.”. Dengan agak terkagetnya dia menjawab, “Selamat siang juga, pak…” , “Eduardson”, aku memotong bicaranya. “Apakah Chief Falluci ada?”. Dengan senyumnya yang membuatku terkesan itu, dia menimpali, “Beliau sedang keluar. Anda bisa menunggu sebentar.”. Akhirnya aku pun duduk di sebuah sofa yang tidak begitu nyaman dan nampaknya sudah lebih dari 25 tahun terdiam di ruangan itu.

Sembari menunggu, aku mengambil koran dan mulai membacanya. Akan tetapi, Koran Metropolitan Herald yang katanya biasa memuat berita-berita spektakuler pun, tidak dapat memfokuskan konsentrasiku. Entah mengapa, aku tidak bisa fokus semenjak berbicara dengan sekretaris yang masih santai mengetik di bangkunya. Kucoba membaca judul besar yang ada di halaman pertama, ’Pegawai Terindikasi Korupsi, Pemerintah Dibuat Repot. Kepolisian Negara Bagian Turun Tangan.’. Judul tersebut sempat membuat fokusku teralihkan kepada berita tersebut. Meskipun hanya bertahan beberapa menit saja sih. Akhirnya, aku memutuskan untuk keluar ruangan sejenak. Tetapi keputusanku seketika batal ketika seseorang memasukki ruangan. Memegang topi upacara polisi, mengenakan setelan jas yang penuh dengan lencana-lencana serta award ribbons yang banyak, dia pun menyapaku, “Selamat siang Pak Eduardson. Maaf sudah menunggu lama.”. “Ah tidak, santai saja.” , jawabku santai. Ya, dialah Kepala Kepolisian Falluci Hernandez, yang merupakan salah satu orang yang mendukung reformasi birokrasi di Kepolisian Los Santos. Walaupun orangnya berusaha berpenampilan necis, tetapi tetap saja tidak terlihat bagus-bagus amat. Umurnya sekitar 30-an tetapi terkadang dapat mengeluarkan senyum sinis yang bermakna dalam (dalam arti hal buruk).

Aku pun berpindah duduk ke depan meja antik dimana Falluci sedang membereskan meja tersebut yang bisa dibilang, sudah rapi. “Jadi begini Chief, seperti tujuan awal saya kemari, saya ingin membantu rencana anda untuk mereformasi badan kepolisian ini.”. “Oh tentu saja”, jawabnya dengan senyum. “Tetapi anda harus hati-hati, sebab siapapun yang mencoba untuk melakukan reformasi ini, biasanya akan berakhir….”. Kemudian aku menyela, “Berakhir… Tidak baik?”. “Ya. Jika tidak mati, pasti sakit keras, yang pada akhirnya menyebabkan kematian orang tersebut.”, jawabnya dengan ekspresi serius. “Tetapi tenang saja”, tambahnya lagi. “Selama anda tidak melakukan investigasi anda secara mencolok, pasti anda akan aman.”. Aku pun dibuat sedikit bingung dengan perkataannya. Bagaimana bisa melakukan investigasi untuk membantu reformasi birokrasi, jika tidak mencolok? Ah, nanti saja akan kutanyakan pada atasanku. “Baiklah, karena mungkin anda baru bisa menginvestigasi mulai esok hari, maka sekretaris saya akan mengantarkan anda menuju hotel anda. Angellista.”. “Ya pak?”, jawab sekretaris itu. “Tolong kamu antarkan Eduardson menuju hotelnya. Ada di sekitar daerah North Rodeo.”. “Baiklah pak. Ayo pak, mari.”, kata sekretaris itu sembari keluar dari ruangan dan melihat ke arahku. Aku pun mengikutinya hingga ke ruang parkir bawah tanah.

Beberapa menit kemudian, aku sudah keluar dari tempat parkir yang gelap dan pengap itu. Peugeot 206 milik si sekretaris muda meluncur menuju North Rodeo. Namun, hanya dalam beberapa menit saja, kendaraan mungil berwarna biru itu sudah terjebak kemacetan di sekitar Market District.  Angellista pun terlihat geram dengan kemacetan ini. Aku mencoba untuk sedikit mengajaknya mengobrol, karena yang kutahu di Los Angeles, orang yang emosi dalam mengemudi, cenderung untuk mencelakakan orang lain. “Ehm, nona Angellista. Sudah berapa lama anda bekerja dengan Falluci?”, tanyaku. Masih dengan muka yang agak cemberut, dia menjawab, “Sekitar 5 bulan.”. “Sekretaris baru?”, tanyaku. “Iya. Ngegantiin sekretaris lama yang udah meninggal.”, dia menjawab dengan muka semakin cemberut. Karena mungkin aku merasa malas untuk mendengarkan obrolan wantia yang sedang emosi, akhirnya kucoba untuk mengajaknya makan. Pada awalnya aku memperkirakan dia akan menolak ajakanku. Ternyata tidak! Dia berbalik menjadi tersenyum dan dengan senang hati mulai sedikit bercerita. Akhirnya aku tahu, dia pindah ke Los Santos ini karena tidak ingin hidupnya diganggu lagi oleh mantan suaminya yang bernama Rafael yang ternyata, bekerja sebagai seorang bos mafia di Miami. Aku agak terkagum-kagum dengan cerita dia. Tetapi kekagumanku buyar setelah mobil kami sampai di Restoran ‘Grillo Bistro’ yang terletak di Verona Beach. Sebenarnya sih, jarak dari kantor polisi sampai ke tempat ini tidaklah terlampau jauh. Tetapi karena macet yang sangat parah, akhirnya kami tiba di sana setelah 2 jam duduk menikmati pemandangan jalan raya yang padat.

“Ini restoran favoritku. Makanannya enak-enak tapi murah.”, kata Angellista dengan tersenyum. “Oke kalau begitu, langsung saja cari tempat duduk yang enak dan pesan makanannya langsung, Angellista.”. “Anda bisa memanggil saya Lista jika anda mau.”, katanya menimpali. “Ya kalau memang itu maumu, silakan.”, balasku dengan tersenyum. Akhirnya kami memesan 2 Tenderloin Steak, 2 Salad, dan 2 Jus Jeruk. “Baiklah Lista. Nerusin cerita kamu yang tadi, jadi kenapa kamu pindah ke Los Santos?”, tanyaku dengan penuh rasa penasaran. “Ya begitu deh pak. Namanya juga ingin hidup tenang tanpa digodain oleh para orang-orang dunia hitam itu.”. Aku pun tertawa sedikit ketika mendengar kata dunia hitam tersebut. Kemudian dia pun terus bercerita. Ketika dia bercerita, entah kenapa ada sesuatu muncul di hatiku, dan terlintas di pikiranku, “Ini dia yang kucari selama ini!”. Entah maksudnya apa, aku tidak mau terlalu memikirkannya sekarang. Yang penting, aku harus membereskan pekerjaanku sehingga aku dapat menikmati liburan di Kepulauan Karibia yang telah lama kunantikan. Meskipun sendiri, tapi ya, itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Semakin lama kupandangi, entah kenapa aku merasa semakin tenang, tenang, dan tenang. Tiba-tiba, “Hey pak. Kok ngelamun?”, dia menyapaku. Aku pun sontak terkaget berdiri dan agak menjauh. Angellista pun tertawa. Aku pun ikut tertawa karena memang restoran itu sedang sepi. Jadi ya, tidak perlu terlalu merasa malu lah.

Setelah acara makan di restoran pun berakhir, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju North Rodeo. Aku bertanya iseng, “Kamu nggak pulang Lista?”. Jawabnya dengan senyum, “Aku tinggal di apartemen di sebelah hotel bapak.”. “Oh ya, jangan panggil saya bapak. Jadi ngerasanya udah umur 40 tahunan nih. Panggil saya Eduardson saja.”. “Iya deh pak, eh Eduardson.”. Kami berdua pun tertawa. Namun, tertawaku tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba aku melihat ada sebuah Chevrolet Caprice hitam mengikuti mobil kami. Kemudian aku berkata, “Kamu bisa kan ngelakuin manuver ekstrim?”. “Ya bisa sedikit-sedikit. Memang kenapa?”, tanyanya dengan agak heran. “Caprice hitam. Di belakang.”. “Oooh, itu. Oke. Pegangan ya, Eduardson.”, dengan nada sedikit mengejek. Meskipun sudah dekat dengan hotel, akhirnya Angellista berbelok kembali dan memasukki Coastline Avenue. Dimana lalu lintas di jalan tersebut sedang padat-padatnya. Akan tetapi, dengan lihai, Angellista membawa Peugeot 206 nya menembus lalu lintas dengan cepat tanpa goresan sedikit pun.

“Bagus. Kita sudah menghilangkan jejak.”, dia berbicara dengan tegas. “Baiklah, langsung on the way ke hotel.”, jawabku. Akhirnya, setelah beberapa menit, akhirnya kami sampai di sebuah hotel yang cukup menjulang tinggi. Angellista menurunkanku di jalan kecil di depan hotel. “Baiklah Eduardson, sampai bertemu besok.”, “Oke deh, sampai…”. Sebelum aku melanjutkan perkataanku, tiba-tiba 2 mobil Chevrolet Tahoe hitam menyemburkan banyak peluru ke arah hotel. Otomatis aku pun berlindung dan Angellista tanpa ragu menekan pedal gas Peugeotnya sekeras mungkin. Namun, tidak lama berselang, Peugeot biru itu ditabrak oleh sebuah mobil boks hitam. Aku mencoba untuk melihat keadaan Angellista. Tetapi hantaman ratusan peluru ke arah tempat aku berlindung membuatku harus membalas tembakan mereka dengan pistol 9mm yang aku simpan untuk jaga-jaga. Beberapa menit setelahnya, aku melihat mobil boks itu pergi, diikuti dengan 2 Chevrolet Tahoe tersebut. Aku pun berdiri dan melihat, beberapa petugas keamanan hotel, petugas valet service dan beberapa pejalan kaki bersimbuhan di jalan. Aku berjalan menuju Peugeot Angellista. Aku sudah acuh tak acuh terhadap seorang pemuda yang sibuk menelepon layanan darurat, seorang remaja perempuan yang coba berdiri setelah mobilnya terhantam letusan beberapa peluru, dan sebuah keluarga yang berusaha keluar dari mobilnya yang terbalik setelah ditabrak salah satu Chevrolet Tahoe tersebut. Aku pun mendekati Peugeot Angellista yang mulai terbakar, dan membuka pintu sebelah kanannya. Tetapi ternyata, tidak ada siapapun disana.

Aku terjatuh lemas di samping kendaraan tersebut. Suara sirene polisi, ambulans, dan pemadam kebakaran yang meraung-raung mendekati TKP tidak kuperhatikan lagi. Yang saat ini ada di pikiranku, “Siapakah mereka? Apa mau mereka? Mengapa mereka begitu berniat menculik Lista?”. Akhirnya, seseorang menepuk pundakku. Ternyata, dia adalah teman lamaku dari Kepolisian San Fransisco. Ya, Letnan Victory McKnight. Blasteran Amerika-Russia yang beberapa tahun lalu sempat kuselamatkan dari serangan teroris, berusaha menggotongku ke ambulans terdekat. “Hey Eduardson, lu ga apa-apa kan?”. “Ah. Aku tak apa-apa. Yang perlu kau khawatirkan sekarang itu ya sekretaris Chief Falluci. Dia diculik oleh gerombolan penyerang itu.”, jawabku dengan singkat. “Wah, gawat juga kalau begitu. Baiklah, ayo ke Balai Kota. Sedang ada rapat di sana.”. “Boleh lah kalau begitu.”, jawabku yang sudah diberikan sedikit perban di kepala.

Dengan menaiki Ford Crown Victoria hitam yang sudah terlihat agak usang itu, akhirnya kami berdua tiba di Balai Kota Los Santos dalam hitungan 20 menit. Gedung Balai Kota sebenarnya adalah gedung bekas dari zaman Kemerdekaan Amerika Serikat. Dahulu, katanya, Balai Kota ini pernah digunakan sebagai benteng pertahanan terakhir AS melawan Perancis dibawah komando Laksamana Thaelaus Jackson. Selain sejarahnya, bangunan Balai Kota ini juga memiliki arsitektur unik dengan kubah biru di atasnya. Sementara di depannya, terpasang tiga pilar yang dihubungkan dengan kaca-kaca khas arsitektur klasik ala Kota New York dan terdapat 3 pintu kecil di bawah kaca tersebut.

Di dalam Balai Kota tidak kalah megahnya. Meskipun di luar terlihat seperti bangunan klasik, ternyata di dalamnya, bangunan ini jauh dari kesan “klasik”. Dengan peralatan serba digital dan para pegawai pemerintahan kota yang berlalu lalang, disertai beberapa warga yang sedang akrab berbincang dengan para pegawai. Aku pun langsung menuju lantai paling atas dimana sedang ada rapat antara Gubernur San Andreas, Walikota Los Santos, Kepala Kepolisian Los Santos, dan Perwakilan dari FBI. Mengacuhkan para penjaga berseragam polisi dan FBI, Letnan McKnight pun masuk secara diam-diam melalui belakang dan membisikkan sesuatu kepada Falluci. Kemudian, McKnight memberikan isyarat yang mengizinkan aku untuk masuk ke dalam.

Di dalam ruangan itu, terdapat sebuah meja bundar yang memiliki sekitar 20 buah kursi (dan yang terisi hanya 4 kursi saat itu). Aku pun mulai melihat papan nama yang ada di meja tersebut. “Gubernur San Andreas – Michael Bailey” , “Walikota Los Santos – Tom Hemsley” , “Kepala Kepolisian Los Santos – Chief Falluci Hernandez” , “Representatif FBI – Detektif Callysta Charlayne”. McKnight dan aku duduk di sebelah Falluci yang pada saat itu memang kosong.

“Baiklah, anda pasti Harold Eduardson dari US Marshal, kan? Reputasi dan keberadaan anda cepat sekali menyebar di sini. Perkenalkan, saya Gubernur Michael Bailey. Anda bisa memanggil saya Drake.”. “Senang bisa bertemu anda, Pak Gubernur.”, jawabku. “Selamat datang. Semoga anda menikmati kota kami. Saya walikota Tom Hemsley. Anda bisa memanggil saya cukup dengan Tom saja.”. “Senang bisa berjumpa dengan anda, Pak Walikota.”, jawabku. “Pak Eduardson, perkenalkan, ini representatif dari FBI yang sedang memproses kasus korupsi di pemerintahan.”

“Callysta Charlayne. Senang berjumpa dengan anda.” . “Senang bertemu dengan anda.”, jawabku. Setelah itu, kupikir akan dilanjutkan dengan diskusi yang menarik untuk disimak. Tetapi ternyata, hanya luarnya saja yang menarik. Pada kenyataannya, diskusi membosankan ini akhirnya memberikan wewenang penuh kepada Falluci Hernandez untuk menuntaskan kasus korupsi di Los Santos, terutama di pemerintahan, dengan pengawasan dari FBI.

Dengan ekspresi kecewa, akhirnya aku pun keluar dari Balai Kota. “McKnight. Kalau boleh, aku ingin meminta bantuan kepada divisi intel kepolisian.” , pintaku. “Oooh, maksudmu CID alias Crime Intelligence Division? Boleh saja, nanti akan kupertemukan kau dengan pemimpinnya langsung.”. Bertemu pemimpin divisi intel kepolisian? Wah, pasti bakalan menarik. Dengan auranya yang bisa disembunyikan, dengan sejuta informasi rahasia di kepalanya, wah. Pasti aku bisa mencari sesuatu yang menarik dari orang ini.

Dugaanku ternyata tepat. Kapten Ricardo Samatha yang merupakan pemimpin divisi ini, bisa dibilang merupakan sosok yang agak pendiam, dan jarang berbicara. Meski dalam sebuah pertemuan. Kebanyakan dia hanya mengamati dan mengamati saja. Tetapi sepertinya, dia sudah percaya padaku. Buktinya, dia membisikkan sesuatu padaku. “Kalau kau ingin membasmi korupsi disini, yang pertama harus kau lakukan, penggal kepala ular neraca, kemudian ganti dengan kepala elang.”. Entah apa maksudnya, aku tidak mengerti. Tetapi dengan kata “neraca”, aku sudah bisa mengindikasikan, dia membicarakan tentang seorang pemimpin di dalam lingkaran penegak hukum. Dugaanku langsung mengarah kepada petinggi Kepolisian Los Santos. Tapi dugaan itu aku simpan dan kuingat baik-baik. Jikalau memang terbukti nyata, aku bisa menggunakan hal tersebut untuk memulai investigasi yang baru.

Pada akhirnya, aku diizinkan untuk menggunakan peralatan CID. Aku pun langsung terjun menggunakan peralatan penyamaran yang bisa dibilang, cukup kuno untuk kepolisian sebesar Kepolisian Los Santos. Ya, tapi apa daya, hanya ini yang mereka punya. Harus digunakan seoptimal mungkin. Kapten Ricardo Samatha juga memberikanku sebuah buku catatan yang agak usang dan memuat beberapa peta yang diberi warna-warna tertentu pada daerahnya. Kebanyakan di daerah timur Kota Los Santos. Ketika Alfa Romeo yang kunaiki akan keluar, tiba-tiba saja, penyadapku secara acak menyadap sesuatu. Aku pun terpaksa buru-buru keluar dari basement kantor polisi itu yang menyebabkan aku hampir menggores seorang Trainee yang baru selesai mendapatkan latihan lapangan.

Setelah diluar, aku mencoba mengatur frekuensi yang sesuai dengan pembicaraan tadi, dan ternyata, aku mendengar suara Falluci Hernandez berbicara dengan seseorang. “Bagaimana. Apakah dia melawan?”, tanya Falluci. “Tentu tidak, temanku, perempuan ini dalam keadaan baik-baik saja. Cuma yaa, sedikit kotor dikarenakan dia berusaha memberontak. Tapi tenang saja temanku. Kita berdua akan berhasil mendominasi negara bagian ini, segera.”. “Baiklah. Jika memang dia terus melawan, tendang saja kepalanya. Aku harus membereskan yang satu lagi”, balas Falluci. Dengan terpaksa aku segera memutskan penyadapan begitu aku melihat Falluci berada di seberang jalan dan mengarah ke mobilku. Aku yang mulai curiga, mulai melepaskan pistolku dari sarungnya. Akan tetapi tiba-tiba, ada orang (entah siapa) yang menerjang mobilku dan langsung saja, Falluci menodongkan sebuah Tec-9 ke arahku. Akhirnya, aku harus menyerah secara payah di bawah todongan senjata. Aku keluar dari mobilku, menjatuhkan pistolku dan tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang menyetrum diriku dengan stun gun. Aku melihat seklias siapa orang itu, dia mengenakan seragam paramedis dan di belakangnya terlihat ambulans. Tetapi aku tidak bisa berkutik lagi, pandanganku mengabur dan tiba-tiba menjadi gelap.

Ketika aku mencoba membukka mataku, aku merasa pusing. Pandanganku mulai terfokus kepada seseorang yang memakai seragam paramedis yang sedang mengikatkan ikatanku kepada sesuatu, yang agak lembut. Entah apa itu, tetapi aku mencoba untuk memfokuskan pandanganku. Aku berhasil menangkap sebuah nama di jaket paramedis tersebut. Salvatore Bruno. Ya. Aku mengenal nama itu. Bagaimana tidak? Dia adalah seorang agen IIB yang dicari terus menerus oleh Kanada dan teman-teman agen IIBku yang ada di AS sedang mencarinya kemana-mana. Tanpa disangka, aku bertemu dia disini, dan dia mengikatku. Akhirnya, dia meninggalkan tempat tersebut dan menghilang dari pandanganku. Tempat ini tampaknya merupakan sebuah loteng di… , entahlah. Aku tidak tahu dimana ini, yang jelas setelah kuperhatikan lagi, ini adalah model loteng rumah Amerika pada umumnya. Berdebu, banyak barang bekas yang ditutupi kain terpal putih dan terdapat beberapa lukisan di sana. Ada juga beberapa figurin Star Wars yang sudah berdebu berdiri di atas sebuah meja yang tidak kalah berdebunya dengan figurin tersebut.

Tiba-tiba saja, tanganku bergoyang. Bukan, bukan karena tikus. Tetapi karena tiang atau entahlah. Sesuatu di belakangku itu bergerak. Kemudian kudengar suara itu kembali. Ya, suara Angellista! Untungnya, mulut kami berdua tampaknya lupa disumpal atau memang sengaja tidak disumpal. “Angellista, apa itu kamu?”. “Eduardson? Oh, terima kasih. Sekarang anda tertangkap juga?” “Yah bukan niat. Bosmu, ternyata selama ini dia biang keladi di belakang semua korupsi yang melanda Los Santos. Yah, sepertinya juga dia memiliki kerjasama dengan sebuah organisasi illegal. Entah organisasi mana itu, yang jelas ini dapat membahayakan kota.”, aku memaparkan. “Ya, boleh sih semangat Eduardson, tapi, cara kita keluar sekarang?”. “Aku punya ide.”, kataku. Aku pun menggedor-gedorkan kakiku ke lantai loteng. Suaranya memang berisik. Tetapi tidak ada satupun gerakan yang terdengar dari bawah. Setelah kuperhatikan sekeliling, ternyata cahaya rembulan mulai tampak, yang menandakan bahwa mungkin waktu sudah lebih dari pukul 22.00. “Kayaknya ideku gagal nih. Udah tidur kali si Bruno.”. “Bruno? Siapa itu?”, tanya Lista dengan penasaran. “Ya, Salvatore Bruno. Agen IIB dari Kanada yang dicari sama pemerintahnya dan penyandera kita. Aku ga tahu dia habis ngapain lah. Yang jelas kata teman-temanku, dia dicari karena dia nyimpen suatu rahasia.”. Angellista hanya mengangguk tanpa bisa kulihat. Selama beberapa menit, kami berdua terdiam. Hanya ada suara burung hantu di luar dan suara jangkrik yang berirama sama.

Tiba-tiba saja ada suara menggebrak di sebelah kanan kami. Ternyata, sebuah cermin jatuh disenggol oleh seekor tikus. Aku pun sontak mendengar suara langkah kaki yang agak keras dengan sedikit gerutuan dari Bruno. Tetapi itu tidak berlangsung lama, setelah tikus tersebut bercicit dengan kerasnya. “Ah sudahlah, tikus itu lagi. Biarkanlah mereka makan sandera gue. Toh dengan begitu bisa dapet duit lagi.”, jawabnya dengan keras sembari tertawa terbahak-bahak. Suasana pun hening kembali. Dari cermin itu, sekarang, kami bisa melihat muka kami satu sama lain. Yang entah kenapa, membuat hatiku merasa tenang dan semakin tenang. Tiba-tiba Lista pun berkata, “Eh, Eduardson. Ngeliat mukamu, jadi mengingatkan aku pada seseorang?”. “Seseorang?”. “Iya seseorang, seseorang yang kukenal di waktu lampau.”, katanya memandang jauh. “Siapa itu?”, tanyaku penuh keheranan. Akan tetapi, dia tidak menjawab dan mengalihkan pembicaraan ke arah lain. Entah sejak kapan, kami menggunakan “aku-kamu” untuk menyapa satu sama lain, dan tanpa kusadari, aku semakin jatuh cinta kepadanya.

“Eh Eduardson, kamu beneran ya penasaran sama cerita itu?”, tiba-tiba Lista bertanya. “Ya, kalau kamu emang mau cerita, silakan. Kalau tidak, ya enggak apa-apa.”, jawabku. Akhirnya, Angellista mulai bercerita, “Ini terjadi sudah lama loh. Kalau tidak salah waktu aku umurnya masih sekitar 6 atau 7 tahun. Aku pergi ke Kepulauan Karibia. Nah, di sana, aku bermain sama kelompok aku. Akhirnya, ada seorang anak yang mengerjaiku dan aku pun menangis. Secara tiba-tiba, ada seorang anak, sepertinya dari Eropa, dia datang dan langsung mengusir para anak-anak tersebut. Akhirnya, ya begitulah. Kami berdua mengobrol dan meninggalkan kenangan masing-masing. Satu hal yang pasti, aku tidak akan pernah melupakannya Eduardson. Tidak akan pernah sampai akhir hidupku. Kenapa? Karena dia memberikan kesan yang tidak tergantikan di hatiku. Semula, kukira Rafael orangnya. Tetapi ternyata tidak, bukan Rafael. Tetapi seorang lain di luar sana, yang, aku tidak tahu keberadaannya dimana, sampai sekarang.”. Jujur saja, mendengar cerita itu, aku agak tercengang juga. Itu mirip dengan kejadian yang waktu aku alami waktu kecil, bahkan bisa dikatakan jika dalam presentase, 95 persen mirip dengan apa yang kualami waktu aku berlibur ke Kepulauan Karibia. Akhirnya, aku mulai bertanya, “Lista. Aku mau tanya, harap jawab yang jujur. Apa anak itu, ngasih kamu cincin dari ranting dan dedaunan?”. “Iya. Sampai sekarang aku masih pakai.”, jawabnya. “Terus, apa dia ngasih dua buah foto ke kamu?”. “Iya, dua foto yang difoto ketika aku dan dia duduk bareng di atas teras alami di Danau Apalite.”. Tiba-tiba saja, hatiku langsung berdebar-debar. Ingin sebenarnya kukatakan, “Kamu tahu? Kamu sedang berbicara dengan orang yang kamu temui dan yang takkan kamu lupakan tersebut.”. Tetapi, ah. Aku harus masih fokus mengeluarkan kami berdua. Tiada gunanya jika dia mengetahui kenyataan tetapi aku mati konyol, seperti yang dikatakan Falluci Hernandez sialan itu kepadaku. Akhirnya, kami terus bercengkerama mengenai hal-hal yang sebenarnya menarik bagiku, tetapi menjadi agak memalukan ketika dibicarakan dengan wanita.

Kulihat matahari pagi mulai memancarkan kehangatannya ke seluruh ruangan loteng. Aku mulai waspada, dan ternyata kewaspadaanku itu terbukti. Ada suara langkah kaki yang naik ke loteng dan beberapa saat kemudian, terbukalah penutup loteng. Salvatore Bruno, Chief Falluci Hernandez, dan 2 orang petugas berbadan kekar dari Kepolisian Los Santos dengan badge P.A.G.U. di lengan kanannya. Senyum sinis Falluci pun keluar dan senyuman sinis tersebut, terasa layaknya senyum sinis Emperor Palpatine di Star Wars sebelum menyiksa Luke Skywalker. “Baiklah, bodoh. Kau sudah terlalu nekat untuk melanjutkan investigasi yang menganggu kerajaanku. Tentu saja, dengan keadaanku yang sekarang, aku bisa memperalat Gubernur bodoh itu, Walikota yang enggak bisa apa-apa, dan representatif FBI yang terlalu tolol sehingga mudah ditipu.”, kata Falluci diakhiri dengan tertawa. “Berarti kau menambah masalahmu. Baik dengan FBI. US Marshal, bahkan dengan mengajak kawan lamamu atau rekananmu yang mantan IIB ini, berarti kau juga mencari masalah dengan IIB”, kataku cetus.  “Ooh, jadi kau mau bermain, baiklah. Tapi tenang dulu, aku akan memberikanmu kabar. Kapten Ricardo Samatha yang idiot itu dan Letnan Victory McKnight telah kusingkirkan dari Kepolisian Los Santos. Sehingga sekarang, kepolisian sudah resmi menjadi milikku, dan dengan sedikit bantuan kawan lamaku ini, aku akan menjadikan Pemerintahan San Andreas berada di bawah kendaliku. Bagus bukan?”, Falluci berbicara dengan sinis. “Ternyata, bapak yang selama ini saya percaya, berbuat begitu, Sudah cukup. Saya masih memiliki file-file khusus bapak yang tidak pernah saya buka. Saya yakin, buktinya pasti ada di sana, dan begitu orang-orang menemukan file itu, maka anda akan dihabisi oleh seluruh departemen anda sendiri.”, tambah Angellista dengan kesal. “Hohohoho, kau rupanya punya gadis berani disini Falluci. Bagaimana?”, kata Bruno. “Ambil saja kalau kau mau, malas aku melihatnya lagi.” kata Falluci. Ketika Bruno hendak melepas ikatannya, tiba-tiba saja terdengar suara tembakan. Para penyandera ini mengira itu adalah tembakan pistol. Tapi aku bisa mengenali tembakan ini. Ya, tembakan sebuah sniper Remington 780 yang sudah dimodifikasi. Tetapi pertanyaan yang muncul sekarang, “Siapa yang menembak? Kawan? Atau lawan?”. Karena ikatan kami berdua sudah longgar, aku pun melepaskan ikatan dan berhasil melumpuhkan kaki Falluci dan Bruno. Meski kutahu hanya untuk sementara saja. Akhirnya kami berdua meninggalkan rumah itu dalam sebuah Chevrolet Camaro Kuning yang kalau diperhatikan, sangat mirip dengan mobilnya Bumblebee versi awal di dalam Transformers.

Akhirnya, dimulailah pengejaran seru layaknya di film-film action Hollywood. Bedanya, ini terjadi dalam hidupku sendiri. Bersama dengan seorang yang kusayangi. Terlintas dipikiranku suatu hari nanti, aku akan menceritakan pengalaman ini pada anakku atau mungkin, pada cucuku. Tapi untuk saat ini, aku harus fokus mengemudikan kendaraan ke tempat yang aman. Tentu saja bukan Markas Kepolisian ataupun Balai Kota. Tetapi ke sebuah kabin tua di Palomino Creek. Ya, kabin milik Roland McCartney. Teman lamaku yang bekerja di Kepolisian Negara Bagian San Andreas. Mungkin dia mau meminjamkan kabinnya di sana untuk kami beristirahat sejenak. Seketika, gumamanku tenang kabin Roland sirna ketika sebuah peluru menghantam kaca spion mobil bagian kiri. “Kita butuh senjata! Setidaknya untuk membalas!”, teriak Lista. “Coba cari di belakang!”, kataku spontan. Beberapa saat kemudian, Angellista menarik sebuah SMG dari belakang jok, lalu membalas menembakki pengejar. Seketika itu juga, sirene mobil Ford Crown Victoria usang milik Kepolisian Los Santos mulai ikut-ikutan mengejar kami. North Rodeo, Vinewood, Carlo Highway, Coastline Avenue, Los Santos International Airport, Jefferson, dan Ganton.

Pengejaran sepertinya terus berputar di setiap wilayah itu saja. Ketika kami berbelok dan mencoba keluar menuju Palomino Creek melalui East Beach Avenue, kami dihadang oleh blokade belasan mobil Enforcer SWAT Kepolisian Los Santos. “Kemana kita sekarang?”, tanya Angellista. “Entahlah. Tidak ada jalan lain…… Angellista, aku harus mengatakan ini padamu.”, perkataanku ini membuat dia keheranan. “Kamu masih ingat dengan foto ini?”, kataku sembari mengeluarkan foto polaroid aku dan Lista yang masih berumur sangat kecil dan foto sobekan milikku yang menunjukkan Angellista memegang sebuah Coca Cola. Sontak, melihat foto tersebut dia pun tercengang. “Ya Lista. Inilah aku. Aku yang dulu membantumu mengusir anak-anak nakal itu. Akulah, yang juga membuatkan cincin daun ini. Sayang, aku tidak mendapatkan namamu. Sebenarnya, sebelum aku mengetahui masa lalumu pun, aku sudah jatuh cinta padamu. Maukah, kau menjadi milikku, selamanya?”. Dengan sedikit terkaget, dia pun mengangguk. Romantisme singkat itu langsung terpecah seketika ketika rentetan tembakkan mulai terdengar dan berdesing di sekitar mobil kami. “Kamu perlu ingat satu hal Lista, kalaupun aku mati disini, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Takkan pernah.”, kataku pelan sembari mengambil SMG dari tangan Angellista. Tanpa diduga, tiba-tiba ada suara 2 helikopter berputar dan memerintahkan, “FBI! HENTIKAN TEMBAKAN ANDA! SEKARANG! KAMI ULANGI! FBI! HENTIKAN TEMBAKAN ANDA!”. Akhirnya suara tembakan berdesing pun berhenti. Suara di helicopter memerintahkan, “Harold Eduardson! Leonia Angellista! Anda bisa keluar dengan aman! Jatuhkan senjata anda terlebih dahulu!”. Kami berdua menuruti perintah suara tersebut lalu keluar. Tiba-tiba ada sebuah Chevrolet Suburban hitam datang dari arah Utara dan menembus blokade SWAT dengan mudahnya. SUV itu berhenti di depan kami dan keluarlah Detektif Tama dari mobil tersebut. “Eduardson, Angellista. Maaf atas keterlambatan ini. Kami telah…”, sebelum Tama berhasil menyelesaikan kata-katanya, ada sebuah peluru menembus kaki kanannya. Itu adalah tembakan dari Falluci Hernandez. “Sudah cukup kalian berdua! Sekarang, kalian harus kuhabisi!”. Kemudian, ia menekan radio dan berkata dengan kencang, “Baiklah, SWAT Team. Tembak kriminal berbahaya ini.”. Tetapi, apa yang terjadi? Tidak ada satupun Tim SWAT Kepolisian yang menembak. “Ada apa ini? AYO TEMBAK!”, bentak Falluci.

Tiba-tiba saja, suara tembakkan terdengar, dan Falluci roboh seketika. Kakinya tertembak, kali ini oleh sniper. Seketika itu pula, muncullah Letnan Victory McKnight dengan sniper-nya. Kemudian dari belakang barisan petugas polisi, muncullah Kapten Ricardo Samatha membawa sebuah surat. Aku tahu surat apa itu, Surat Perintah Penangkapan. Pertanyaannya, untuk siapa? Tetapi setelah melihat Letnan Yuu menyita senjata Falluci, aku sudah bisa menebak siapa yang akan segera ditangkap. Kemudian itu pula, Detektif Tama bangkit dan mendudukkan dirinya di ban kiri depan Chevrolet Suburbannya. “Kepala Kepolisian Los Santos, Falluci Hernandez, anda kami tahan atas tuduhan konspirasi dalam kriminal, percobaan pembunuhan, pelaksanaan tindakan korupsi, dan masih banyak kriminal. Yang akan dijelaskan di pengadilan.”. Ketika itu pula, Angellista menambahkan, “Mantan Kepala Kepolisian Los Santos, Kapten. Berdasarkan aturan, Kepala Kepolisian Los Santos segera diberhentikan ketika ia ditangkap dengan Surat Perintah Penangkapan.”. “Baiklah kalau begitu aturannya, tetapi siapa yang akan menjadi Kepala Kepolisian? Angellista?”, tanya Ricardo. “Tentu tidak temanku, tapi aku punya ide yang lebih baik lagi.”, jawab McKnight sembari melirik kepadaku. “Aku?”, tanyaku heran. “Ya Eduardson. Kamulah yang paling cocok untuk mengisi posisi ini untuk sementara waktu.”, terang Detektif Tama yang entah sejak kapan, sudah berdiri di sampingku.

***

Aku pun menghela nafas mengingat semua kejadian itu. Kuperhatikan jam tangan, ternyata sudah menunjukkan pukul 17.55 dan aku sudah berada di tempat tunggu taksi untuk menunggu taksi yang datang. Tetapi baru saja aku ingin memanggil taksi, tiba-tiba terdengar sebuah klakson nyaring di kejauhan. Kuperhatikan, Ya, itulah dia, orang yang berarti dan istimewa bagi hidupku. Aku pun segera menghampiri Toyota Prius miliknya. Kemudian tanpa basa-basi aku langsung masuk ke dalam kendaraan tersebut dan mengencangkan sabuk pengaman.

“Kau nggak nyetir? Aku kelelahan nih nyetir dari Angel Pine ke sini.”, keluhnya dengan sedikit memelas. “Ah masa? Kupikir kamu lebih kuat dari beberapa bulan kemarin.”, aku pun tertawa lepas. “Yee, mentang-mentang sudah jadi kepala kepolisian disini, ga berarti kamu bisa seenaknya dong.”, keluhnya dengan cetus. “Ah yaudah, nanti aku yang nyetir. Sekarang, kamu aja dulu ke Palomino Creek. Capek dari Las Venturas ini aduh.”. “Ih manja.”, balasnya dengan cetus sembari menjalankan mobilnya. “Yah, kalo manja ga mungkin jadi kepala kepolisian dong”, balasku sambil tertawa.