Kabut

By: Raka Raimar G.

Fog

Image Copyright are given toward its respective owner, thanks!

Udara dingin menusuk kalbu,
seakan enggan memberikan kehangatan matahari.
Awan berbaring lebih rendah,
mengaburkan pandangan kesana kemari.

Kabut menyelimuti tempat nan elok ini
menghilangkan keindahan serta menyebabkan
manusia berjalan tak tentu arah.
Tiada petunjuk yang berarti untuk melalui hari.

Banyak orang terdiam di persimpangan kota,
menantikan petunjuk untuk berjalan.
Perlahan terlihat samar-samar cahaya kecil,
yang menerangi jalanan walaupun sedikit.

Sebagian mengikuti cahaya tersebut,
sebagian masih terdiam.
Seakan ada penerangan yang lebih baik,
yang belum tentu pasti kehadirannya.

Begitulah manusia,
menunggu ketidakpastian yang besar
dengan hanya berharap
bahwa akan mendapatkan hal lebih baik.

Manusia terkadang tidak perlu melakukan itu.
Manusia terkadang perlu untuk mengambil hal-hal kecil,
kemudian menyusunnya menjadi sesuatu yang besar,
yang hanya bisa didapatkan dengan bergerak dan sabar.

Crossroad

Rabu, 5 April 2017. Di mana burung-burung di belakang rumah saya bernyanyi dan bersahutan satu sama lain. Ya, burung-burung itu bersahutan satu sama lain layaknya paduan suara yang mampu meningkatkan mood untuk bergerak di pagi hari (walaupun biasanya mageran sih hehehehe).

Meskipun hari ini kegiatan saya cukup ramai (nggak nganggur amat hehehe) saya mulai kembali memikirkan banyak hal di kehidupan saya (bahasa somalianya adalah flashback), dimulai dari pilihan yang diambil di dalam kehidupan akademik sampai kehidupan asmara (yang bisa dibilang agak menyedihkan). Memang, semua orang di dalam mengambil sebuah pilihan atau keputusan pastilah mengalami dilema persimpangan. (Biasanya sih setelah ini saya ngambil istilah dari kamus, tapi kali ini karena internetnya limited jadi nggak saya lakuin – “ah bebeja we mager lur” – kata komentator mah).

Baiklah, saya rasa setiap orang pasti pernah mengalami dilema persimpangan. Apa itu dilema persimpangan? Dilema persimpangan menurut saya pribadi adalah sebuah pengalaman yang akan membuat kita stress, kecapean, bahkan ada yang pingsan saking tidak bisa menahan tekanan dilema ini. Dilema persimpangan ini pada diri saya timbul karena over-thinking terhadap outcome dari berbagai opsi yang harus saya ambil di dalam memutuskan sesuatu. Contoh utamanya adalah ketika saya ingin menyatakan perasaan saya kepada seseorang, saya mengalami sendiri betapa bingung dan khawatir dengan outcome yang akan terjadi. Kalau mau nyatain takutnya dijauhin, kalo nggak nyatain bakalan menyesal. Kepikiran sih outcome yang paling bagusnya (jadian) sama outcome yang paling buruk (ditolak + dianggap sebagai benda menjijikkan yang selalu ingin dihindari). Ya walaupun pada sebenarnya hasil akhirnya adalah ditolak karena terlalu cepat menyatakan tanpa pendekatan, tetapi tetap saja bahwa persimpangan itu akan selalu ada di dalam kehidupan kita semua.

Bagaimana caranya menghadapi persimpangan yang muncul ini? Berdasarkan pengalaman saya sendiri, cara untuk menghadapi persimpangan ini yang paling tepat adalah:

  1. Kurangi opsi sehingga opsi yang dimiliki menjadi sesedikit mungkin. Coba pikirkan outcome dan tujuan kita (alasan utama kenapa kita bisa berada di persimpangan itu sendiri)
  2. Ketika opsi yang dikurangi sudah tidak bisa dikurangi (kalo berkurang sampe jadi 1 opsi pada tahap ini langsung sikat ae lurrr, ga usah mikirin amat langkah berikutnya), coba pikirin lebih matang lagi keputusan mana yang memang akan memberikan manfaat kepada kita, kemudian orang-orang terdekat kita (serta masyarakat – pertimbangan paling tersier, dan ga penting-penting amat kalo keputusannya cuman berhubungan sama diri pribadi kita.)
  3. Eksekusi keputusan setelah opsi dipilih. (Kalo ga dieksekusi sama aja boong atuh)
  4. Berdoa dan siapkan diri untuk segala kemungkinan yang terjadi dari pengambilan keputusan tersebut (baik itu kemungkinan outcome terburuk maupun outcome terbaik).

Biasanya, permasalahan setelah keputusan diambil timbul karena seseorang tidak siap untuk menerima outcome yang tidak sesuai dengan ekspektasi mereka saat memutuskan untuk mengambil opsi di perempatan dilema sebelumnya, mulai dari putus, sampai bunuh diri pun bisa berakar dari ketidaksiapan kita dalam menerima outcome dari opsi yang kita pilih.

Udah dulu yah ngetiknya, karena saya ngetiknya juga di tengah-tengah istirahat meeting proyek, jadi ga bisa panjang-panjang (padahal mah pegel karena kebanyakan ngetik hal yang lain selain blog ini).

Mungkin di lain waktu unek-uneknya akan kembali menyertakan KBBI (sebagai salah satu kawan setia saya dalam permasalahan referensi untuk membantu saya) dan kembali berisi (atau malah lebih berisi dari yang sebelumnya, aamiin).

Keep Amazed!

151118141639-star-wars-questions-6-super-169

Halo readers!

Dari post terakhir di blog ini sampe post ini hadir, jujur aja ya, saking terlalu asyiknya menikmati kehidupan dengan segala manis-asam-asinnya, akhirnya malah kelupaan kalo selama ini saya punya sebuah blog! Ya, jujur saya kelupaan kalo saya punya blog!

Hal yang bikin saya inget sama blog ini adalah ketika saya browsing inbox email (dimaklum, lagi ga ada kerjaan dan sudah bosan bermain game sama ngutak-ngatik HP + Social Media). Keinget blog ini pun membuat saya ingin untuk kembali mulai menuliskan cerita-cerita yang gimana yah…. Kadang di otak itu muncul tiba-tiba, tapi hilang begitu mau ngetik di laptop/HP (ya, WordPress bisa dari Android loh sekarang, wkwkkwkw).

Jadi pada intinya, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, dengan post ini saya berjanji untuk kembali mulai merintis membuat cerpen dan tulisan apapun yang saya inginkan ke dalam blog ini. Ya okelah, ga akan sebagus blogger blogger yang udah lama juga melanglangbuana di dunia per-blogging-an ini.

Sebenernya dari dulu sudah ada mau bikin cerpen (cerbung sih pengennya-kalo ga males hehehe) berdasarkan kepada secuil cerita hidup saya sih, tapi entah kenapa selalu ada hambatan yang memang bikin akhirnya ga jadi melulu (kalo ga file-nya yang ilang, ya niat menulisnya yang ilang).

Ya sudahlah, sedikit teaser untuk cerita pendek selanjutnya yang akan ditampilkan di blog ini, yaitu cerita mengenai seseorang yang mengalami kesedihan setelah mendapatkan harapan palsu dan terlalu ngarep sama seseorang. Untuk setting, karakter, dan lain halnya nanti dulu yah. Kalo diceritain semuanya ga rame dong.

Besar harapan ini adalah terakhir kalinya saya harus ngebersihin debu dari blog yang tercinta ini.

 

Have a nice day!