Ketika Kamu Berada di Sisiku

Aku terduduk lemas di ujung kursi panjang berwarna merah yang terus bergerak menuju ke arah Stasiun Bawah Tanah Jefferson. Sudah lebih dari setengah hari aku kembali dari wilayah kering kerontang yang berwarna kecoklatan di utara kota ini. Begitu terdengar suara wanita yang sudah umum kudengar hampir setiap hari di speaker stasiun itu, akupun berjalan keluar dari balok besi besar tersebut kemudian melangkahkan kakiku menuju ke tempat dimana segalanya terjadi. Ya, benar sekali. Sebuah kota metropolitan yang besar dengan dinamikanya, memberikan kenangan besar dan juga menuntut kecepatan penghuninya untuk terus bergerak memenuhi deadline tugas mereka masing-masing demi keluarga mereka yang ditinggalkan sementara waktu. Tetapi, untuk hal yang terakhir kusebutkan (bagian keluarga), rasanya tidak berlaku bagiku. Mungkin lebih tepat jika, disebut sebagai orang istimewa di hidupku. Ya, seseorang yang istimewa bagiku dan hidupku.

***

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya ketika daun-daun mulai berjatuhan, aku datang ke kota ini. Ya, aku datang atas perintah US Marshal untuk membantu menyelesaikan kekacauan administratif yang terjadi pada kepolisian kota ini. Yah, memang sungguh sambutan yang kurang ramah dari para petugas berbaju hitam itu. Tapi apa mau dikata? Itulah sambutan dalam hidup. Kadang diawali dengan senyuman, kadang diawali dengan cercaan dan makian. Begitupun akhirnya, tidak semuanya berakhir happy ending layaknya cerita dongeng-dongeng klasik yang selalu dibacakan kepada balita yang ingin tidur.

Akhirnya, setelah melewati deretan panjang meja yang penuh dengan tumpukan kertas yang tidak teratur, aku pun memasukki sebuah ruangan. Ruangan itu, jauh berbeda dari keadaan di luarnya. Tertata rapi dengan beberapa bunga yang kurasa itu Lavender atau sejenisnya disertai dengan beberapa meja yang di atasnya ada layar LCD terbaru. Aku pun melirik ke salah satu meja itu. Di sana, terduduk dengan tenang sambil mengetik berkas yang aku tidak perhatikan (mungkin hanyalah berkas rutin kepolisian). Kemudian, aku lirik sedikit papan nama hitam yang ada di samping layar LCDnya. ‘Secretary – Leonia Angellista’. Begitulah nama yang tertera pada papan nama tersebut. Kemudian, aku pun menyapanya, “Selamat siang, nona….. Angellista.”. Dengan agak terkagetnya dia menjawab, “Selamat siang juga, pak…” , “Eduardson”, aku memotong bicaranya. “Apakah Chief Falluci ada?”. Dengan senyumnya yang membuatku terkesan itu, dia menimpali, “Beliau sedang keluar. Anda bisa menunggu sebentar.”. Akhirnya aku pun duduk di sebuah sofa yang tidak begitu nyaman dan nampaknya sudah lebih dari 25 tahun terdiam di ruangan itu.

Sembari menunggu, aku mengambil koran dan mulai membacanya. Akan tetapi, Koran Metropolitan Herald yang katanya biasa memuat berita-berita spektakuler pun, tidak dapat memfokuskan konsentrasiku. Entah mengapa, aku tidak bisa fokus semenjak berbicara dengan sekretaris yang masih santai mengetik di bangkunya. Kucoba membaca judul besar yang ada di halaman pertama, ’Pegawai Terindikasi Korupsi, Pemerintah Dibuat Repot. Kepolisian Negara Bagian Turun Tangan.’. Judul tersebut sempat membuat fokusku teralihkan kepada berita tersebut. Meskipun hanya bertahan beberapa menit saja sih. Akhirnya, aku memutuskan untuk keluar ruangan sejenak. Tetapi keputusanku seketika batal ketika seseorang memasukki ruangan. Memegang topi upacara polisi, mengenakan setelan jas yang penuh dengan lencana-lencana serta award ribbons yang banyak, dia pun menyapaku, “Selamat siang Pak Eduardson. Maaf sudah menunggu lama.”. “Ah tidak, santai saja.” , jawabku santai. Ya, dialah Kepala Kepolisian Falluci Hernandez, yang merupakan salah satu orang yang mendukung reformasi birokrasi di Kepolisian Los Santos. Walaupun orangnya berusaha berpenampilan necis, tetapi tetap saja tidak terlihat bagus-bagus amat. Umurnya sekitar 30-an tetapi terkadang dapat mengeluarkan senyum sinis yang bermakna dalam (dalam arti hal buruk).

Aku pun berpindah duduk ke depan meja antik dimana Falluci sedang membereskan meja tersebut yang bisa dibilang, sudah rapi. “Jadi begini Chief, seperti tujuan awal saya kemari, saya ingin membantu rencana anda untuk mereformasi badan kepolisian ini.”. “Oh tentu saja”, jawabnya dengan senyum. “Tetapi anda harus hati-hati, sebab siapapun yang mencoba untuk melakukan reformasi ini, biasanya akan berakhir….”. Kemudian aku menyela, “Berakhir… Tidak baik?”. “Ya. Jika tidak mati, pasti sakit keras, yang pada akhirnya menyebabkan kematian orang tersebut.”, jawabnya dengan ekspresi serius. “Tetapi tenang saja”, tambahnya lagi. “Selama anda tidak melakukan investigasi anda secara mencolok, pasti anda akan aman.”. Aku pun dibuat sedikit bingung dengan perkataannya. Bagaimana bisa melakukan investigasi untuk membantu reformasi birokrasi, jika tidak mencolok? Ah, nanti saja akan kutanyakan pada atasanku. “Baiklah, karena mungkin anda baru bisa menginvestigasi mulai esok hari, maka sekretaris saya akan mengantarkan anda menuju hotel anda. Angellista.”. “Ya pak?”, jawab sekretaris itu. “Tolong kamu antarkan Eduardson menuju hotelnya. Ada di sekitar daerah North Rodeo.”. “Baiklah pak. Ayo pak, mari.”, kata sekretaris itu sembari keluar dari ruangan dan melihat ke arahku. Aku pun mengikutinya hingga ke ruang parkir bawah tanah.

Beberapa menit kemudian, aku sudah keluar dari tempat parkir yang gelap dan pengap itu. Peugeot 206 milik si sekretaris muda meluncur menuju North Rodeo. Namun, hanya dalam beberapa menit saja, kendaraan mungil berwarna biru itu sudah terjebak kemacetan di sekitar Market District.  Angellista pun terlihat geram dengan kemacetan ini. Aku mencoba untuk sedikit mengajaknya mengobrol, karena yang kutahu di Los Angeles, orang yang emosi dalam mengemudi, cenderung untuk mencelakakan orang lain. “Ehm, nona Angellista. Sudah berapa lama anda bekerja dengan Falluci?”, tanyaku. Masih dengan muka yang agak cemberut, dia menjawab, “Sekitar 5 bulan.”. “Sekretaris baru?”, tanyaku. “Iya. Ngegantiin sekretaris lama yang udah meninggal.”, dia menjawab dengan muka semakin cemberut. Karena mungkin aku merasa malas untuk mendengarkan obrolan wantia yang sedang emosi, akhirnya kucoba untuk mengajaknya makan. Pada awalnya aku memperkirakan dia akan menolak ajakanku. Ternyata tidak! Dia berbalik menjadi tersenyum dan dengan senang hati mulai sedikit bercerita. Akhirnya aku tahu, dia pindah ke Los Santos ini karena tidak ingin hidupnya diganggu lagi oleh mantan suaminya yang bernama Rafael yang ternyata, bekerja sebagai seorang bos mafia di Miami. Aku agak terkagum-kagum dengan cerita dia. Tetapi kekagumanku buyar setelah mobil kami sampai di Restoran ‘Grillo Bistro’ yang terletak di Verona Beach. Sebenarnya sih, jarak dari kantor polisi sampai ke tempat ini tidaklah terlampau jauh. Tetapi karena macet yang sangat parah, akhirnya kami tiba di sana setelah 2 jam duduk menikmati pemandangan jalan raya yang padat.

“Ini restoran favoritku. Makanannya enak-enak tapi murah.”, kata Angellista dengan tersenyum. “Oke kalau begitu, langsung saja cari tempat duduk yang enak dan pesan makanannya langsung, Angellista.”. “Anda bisa memanggil saya Lista jika anda mau.”, katanya menimpali. “Ya kalau memang itu maumu, silakan.”, balasku dengan tersenyum. Akhirnya kami memesan 2 Tenderloin Steak, 2 Salad, dan 2 Jus Jeruk. “Baiklah Lista. Nerusin cerita kamu yang tadi, jadi kenapa kamu pindah ke Los Santos?”, tanyaku dengan penuh rasa penasaran. “Ya begitu deh pak. Namanya juga ingin hidup tenang tanpa digodain oleh para orang-orang dunia hitam itu.”. Aku pun tertawa sedikit ketika mendengar kata dunia hitam tersebut. Kemudian dia pun terus bercerita. Ketika dia bercerita, entah kenapa ada sesuatu muncul di hatiku, dan terlintas di pikiranku, “Ini dia yang kucari selama ini!”. Entah maksudnya apa, aku tidak mau terlalu memikirkannya sekarang. Yang penting, aku harus membereskan pekerjaanku sehingga aku dapat menikmati liburan di Kepulauan Karibia yang telah lama kunantikan. Meskipun sendiri, tapi ya, itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Semakin lama kupandangi, entah kenapa aku merasa semakin tenang, tenang, dan tenang. Tiba-tiba, “Hey pak. Kok ngelamun?”, dia menyapaku. Aku pun sontak terkaget berdiri dan agak menjauh. Angellista pun tertawa. Aku pun ikut tertawa karena memang restoran itu sedang sepi. Jadi ya, tidak perlu terlalu merasa malu lah.

Setelah acara makan di restoran pun berakhir, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju North Rodeo. Aku bertanya iseng, “Kamu nggak pulang Lista?”. Jawabnya dengan senyum, “Aku tinggal di apartemen di sebelah hotel bapak.”. “Oh ya, jangan panggil saya bapak. Jadi ngerasanya udah umur 40 tahunan nih. Panggil saya Eduardson saja.”. “Iya deh pak, eh Eduardson.”. Kami berdua pun tertawa. Namun, tertawaku tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba aku melihat ada sebuah Chevrolet Caprice hitam mengikuti mobil kami. Kemudian aku berkata, “Kamu bisa kan ngelakuin manuver ekstrim?”. “Ya bisa sedikit-sedikit. Memang kenapa?”, tanyanya dengan agak heran. “Caprice hitam. Di belakang.”. “Oooh, itu. Oke. Pegangan ya, Eduardson.”, dengan nada sedikit mengejek. Meskipun sudah dekat dengan hotel, akhirnya Angellista berbelok kembali dan memasukki Coastline Avenue. Dimana lalu lintas di jalan tersebut sedang padat-padatnya. Akan tetapi, dengan lihai, Angellista membawa Peugeot 206 nya menembus lalu lintas dengan cepat tanpa goresan sedikit pun.

“Bagus. Kita sudah menghilangkan jejak.”, dia berbicara dengan tegas. “Baiklah, langsung on the way ke hotel.”, jawabku. Akhirnya, setelah beberapa menit, akhirnya kami sampai di sebuah hotel yang cukup menjulang tinggi. Angellista menurunkanku di jalan kecil di depan hotel. “Baiklah Eduardson, sampai bertemu besok.”, “Oke deh, sampai…”. Sebelum aku melanjutkan perkataanku, tiba-tiba 2 mobil Chevrolet Tahoe hitam menyemburkan banyak peluru ke arah hotel. Otomatis aku pun berlindung dan Angellista tanpa ragu menekan pedal gas Peugeotnya sekeras mungkin. Namun, tidak lama berselang, Peugeot biru itu ditabrak oleh sebuah mobil boks hitam. Aku mencoba untuk melihat keadaan Angellista. Tetapi hantaman ratusan peluru ke arah tempat aku berlindung membuatku harus membalas tembakan mereka dengan pistol 9mm yang aku simpan untuk jaga-jaga. Beberapa menit setelahnya, aku melihat mobil boks itu pergi, diikuti dengan 2 Chevrolet Tahoe tersebut. Aku pun berdiri dan melihat, beberapa petugas keamanan hotel, petugas valet service dan beberapa pejalan kaki bersimbuhan di jalan. Aku berjalan menuju Peugeot Angellista. Aku sudah acuh tak acuh terhadap seorang pemuda yang sibuk menelepon layanan darurat, seorang remaja perempuan yang coba berdiri setelah mobilnya terhantam letusan beberapa peluru, dan sebuah keluarga yang berusaha keluar dari mobilnya yang terbalik setelah ditabrak salah satu Chevrolet Tahoe tersebut. Aku pun mendekati Peugeot Angellista yang mulai terbakar, dan membuka pintu sebelah kanannya. Tetapi ternyata, tidak ada siapapun disana.

Aku terjatuh lemas di samping kendaraan tersebut. Suara sirene polisi, ambulans, dan pemadam kebakaran yang meraung-raung mendekati TKP tidak kuperhatikan lagi. Yang saat ini ada di pikiranku, “Siapakah mereka? Apa mau mereka? Mengapa mereka begitu berniat menculik Lista?”. Akhirnya, seseorang menepuk pundakku. Ternyata, dia adalah teman lamaku dari Kepolisian San Fransisco. Ya, Letnan Victory McKnight. Blasteran Amerika-Russia yang beberapa tahun lalu sempat kuselamatkan dari serangan teroris, berusaha menggotongku ke ambulans terdekat. “Hey Eduardson, lu ga apa-apa kan?”. “Ah. Aku tak apa-apa. Yang perlu kau khawatirkan sekarang itu ya sekretaris Chief Falluci. Dia diculik oleh gerombolan penyerang itu.”, jawabku dengan singkat. “Wah, gawat juga kalau begitu. Baiklah, ayo ke Balai Kota. Sedang ada rapat di sana.”. “Boleh lah kalau begitu.”, jawabku yang sudah diberikan sedikit perban di kepala.

Dengan menaiki Ford Crown Victoria hitam yang sudah terlihat agak usang itu, akhirnya kami berdua tiba di Balai Kota Los Santos dalam hitungan 20 menit. Gedung Balai Kota sebenarnya adalah gedung bekas dari zaman Kemerdekaan Amerika Serikat. Dahulu, katanya, Balai Kota ini pernah digunakan sebagai benteng pertahanan terakhir AS melawan Perancis dibawah komando Laksamana Thaelaus Jackson. Selain sejarahnya, bangunan Balai Kota ini juga memiliki arsitektur unik dengan kubah biru di atasnya. Sementara di depannya, terpasang tiga pilar yang dihubungkan dengan kaca-kaca khas arsitektur klasik ala Kota New York dan terdapat 3 pintu kecil di bawah kaca tersebut.

Di dalam Balai Kota tidak kalah megahnya. Meskipun di luar terlihat seperti bangunan klasik, ternyata di dalamnya, bangunan ini jauh dari kesan “klasik”. Dengan peralatan serba digital dan para pegawai pemerintahan kota yang berlalu lalang, disertai beberapa warga yang sedang akrab berbincang dengan para pegawai. Aku pun langsung menuju lantai paling atas dimana sedang ada rapat antara Gubernur San Andreas, Walikota Los Santos, Kepala Kepolisian Los Santos, dan Perwakilan dari FBI. Mengacuhkan para penjaga berseragam polisi dan FBI, Letnan McKnight pun masuk secara diam-diam melalui belakang dan membisikkan sesuatu kepada Falluci. Kemudian, McKnight memberikan isyarat yang mengizinkan aku untuk masuk ke dalam.

Di dalam ruangan itu, terdapat sebuah meja bundar yang memiliki sekitar 20 buah kursi (dan yang terisi hanya 4 kursi saat itu). Aku pun mulai melihat papan nama yang ada di meja tersebut. “Gubernur San Andreas – Michael Bailey” , “Walikota Los Santos – Tom Hemsley” , “Kepala Kepolisian Los Santos – Chief Falluci Hernandez” , “Representatif FBI – Detektif Callysta Charlayne”. McKnight dan aku duduk di sebelah Falluci yang pada saat itu memang kosong.

“Baiklah, anda pasti Harold Eduardson dari US Marshal, kan? Reputasi dan keberadaan anda cepat sekali menyebar di sini. Perkenalkan, saya Gubernur Michael Bailey. Anda bisa memanggil saya Drake.”. “Senang bisa bertemu anda, Pak Gubernur.”, jawabku. “Selamat datang. Semoga anda menikmati kota kami. Saya walikota Tom Hemsley. Anda bisa memanggil saya cukup dengan Tom saja.”. “Senang bisa berjumpa dengan anda, Pak Walikota.”, jawabku. “Pak Eduardson, perkenalkan, ini representatif dari FBI yang sedang memproses kasus korupsi di pemerintahan.”

“Callysta Charlayne. Senang berjumpa dengan anda.” . “Senang bertemu dengan anda.”, jawabku. Setelah itu, kupikir akan dilanjutkan dengan diskusi yang menarik untuk disimak. Tetapi ternyata, hanya luarnya saja yang menarik. Pada kenyataannya, diskusi membosankan ini akhirnya memberikan wewenang penuh kepada Falluci Hernandez untuk menuntaskan kasus korupsi di Los Santos, terutama di pemerintahan, dengan pengawasan dari FBI.

Dengan ekspresi kecewa, akhirnya aku pun keluar dari Balai Kota. “McKnight. Kalau boleh, aku ingin meminta bantuan kepada divisi intel kepolisian.” , pintaku. “Oooh, maksudmu CID alias Crime Intelligence Division? Boleh saja, nanti akan kupertemukan kau dengan pemimpinnya langsung.”. Bertemu pemimpin divisi intel kepolisian? Wah, pasti bakalan menarik. Dengan auranya yang bisa disembunyikan, dengan sejuta informasi rahasia di kepalanya, wah. Pasti aku bisa mencari sesuatu yang menarik dari orang ini.

Dugaanku ternyata tepat. Kapten Ricardo Samatha yang merupakan pemimpin divisi ini, bisa dibilang merupakan sosok yang agak pendiam, dan jarang berbicara. Meski dalam sebuah pertemuan. Kebanyakan dia hanya mengamati dan mengamati saja. Tetapi sepertinya, dia sudah percaya padaku. Buktinya, dia membisikkan sesuatu padaku. “Kalau kau ingin membasmi korupsi disini, yang pertama harus kau lakukan, penggal kepala ular neraca, kemudian ganti dengan kepala elang.”. Entah apa maksudnya, aku tidak mengerti. Tetapi dengan kata “neraca”, aku sudah bisa mengindikasikan, dia membicarakan tentang seorang pemimpin di dalam lingkaran penegak hukum. Dugaanku langsung mengarah kepada petinggi Kepolisian Los Santos. Tapi dugaan itu aku simpan dan kuingat baik-baik. Jikalau memang terbukti nyata, aku bisa menggunakan hal tersebut untuk memulai investigasi yang baru.

Pada akhirnya, aku diizinkan untuk menggunakan peralatan CID. Aku pun langsung terjun menggunakan peralatan penyamaran yang bisa dibilang, cukup kuno untuk kepolisian sebesar Kepolisian Los Santos. Ya, tapi apa daya, hanya ini yang mereka punya. Harus digunakan seoptimal mungkin. Kapten Ricardo Samatha juga memberikanku sebuah buku catatan yang agak usang dan memuat beberapa peta yang diberi warna-warna tertentu pada daerahnya. Kebanyakan di daerah timur Kota Los Santos. Ketika Alfa Romeo yang kunaiki akan keluar, tiba-tiba saja, penyadapku secara acak menyadap sesuatu. Aku pun terpaksa buru-buru keluar dari basement kantor polisi itu yang menyebabkan aku hampir menggores seorang Trainee yang baru selesai mendapatkan latihan lapangan.

Setelah diluar, aku mencoba mengatur frekuensi yang sesuai dengan pembicaraan tadi, dan ternyata, aku mendengar suara Falluci Hernandez berbicara dengan seseorang. “Bagaimana. Apakah dia melawan?”, tanya Falluci. “Tentu tidak, temanku, perempuan ini dalam keadaan baik-baik saja. Cuma yaa, sedikit kotor dikarenakan dia berusaha memberontak. Tapi tenang saja temanku. Kita berdua akan berhasil mendominasi negara bagian ini, segera.”. “Baiklah. Jika memang dia terus melawan, tendang saja kepalanya. Aku harus membereskan yang satu lagi”, balas Falluci. Dengan terpaksa aku segera memutskan penyadapan begitu aku melihat Falluci berada di seberang jalan dan mengarah ke mobilku. Aku yang mulai curiga, mulai melepaskan pistolku dari sarungnya. Akan tetapi tiba-tiba, ada orang (entah siapa) yang menerjang mobilku dan langsung saja, Falluci menodongkan sebuah Tec-9 ke arahku. Akhirnya, aku harus menyerah secara payah di bawah todongan senjata. Aku keluar dari mobilku, menjatuhkan pistolku dan tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang menyetrum diriku dengan stun gun. Aku melihat seklias siapa orang itu, dia mengenakan seragam paramedis dan di belakangnya terlihat ambulans. Tetapi aku tidak bisa berkutik lagi, pandanganku mengabur dan tiba-tiba menjadi gelap.

Ketika aku mencoba membukka mataku, aku merasa pusing. Pandanganku mulai terfokus kepada seseorang yang memakai seragam paramedis yang sedang mengikatkan ikatanku kepada sesuatu, yang agak lembut. Entah apa itu, tetapi aku mencoba untuk memfokuskan pandanganku. Aku berhasil menangkap sebuah nama di jaket paramedis tersebut. Salvatore Bruno. Ya. Aku mengenal nama itu. Bagaimana tidak? Dia adalah seorang agen IIB yang dicari terus menerus oleh Kanada dan teman-teman agen IIBku yang ada di AS sedang mencarinya kemana-mana. Tanpa disangka, aku bertemu dia disini, dan dia mengikatku. Akhirnya, dia meninggalkan tempat tersebut dan menghilang dari pandanganku. Tempat ini tampaknya merupakan sebuah loteng di… , entahlah. Aku tidak tahu dimana ini, yang jelas setelah kuperhatikan lagi, ini adalah model loteng rumah Amerika pada umumnya. Berdebu, banyak barang bekas yang ditutupi kain terpal putih dan terdapat beberapa lukisan di sana. Ada juga beberapa figurin Star Wars yang sudah berdebu berdiri di atas sebuah meja yang tidak kalah berdebunya dengan figurin tersebut.

Tiba-tiba saja, tanganku bergoyang. Bukan, bukan karena tikus. Tetapi karena tiang atau entahlah. Sesuatu di belakangku itu bergerak. Kemudian kudengar suara itu kembali. Ya, suara Angellista! Untungnya, mulut kami berdua tampaknya lupa disumpal atau memang sengaja tidak disumpal. “Angellista, apa itu kamu?”. “Eduardson? Oh, terima kasih. Sekarang anda tertangkap juga?” “Yah bukan niat. Bosmu, ternyata selama ini dia biang keladi di belakang semua korupsi yang melanda Los Santos. Yah, sepertinya juga dia memiliki kerjasama dengan sebuah organisasi illegal. Entah organisasi mana itu, yang jelas ini dapat membahayakan kota.”, aku memaparkan. “Ya, boleh sih semangat Eduardson, tapi, cara kita keluar sekarang?”. “Aku punya ide.”, kataku. Aku pun menggedor-gedorkan kakiku ke lantai loteng. Suaranya memang berisik. Tetapi tidak ada satupun gerakan yang terdengar dari bawah. Setelah kuperhatikan sekeliling, ternyata cahaya rembulan mulai tampak, yang menandakan bahwa mungkin waktu sudah lebih dari pukul 22.00. “Kayaknya ideku gagal nih. Udah tidur kali si Bruno.”. “Bruno? Siapa itu?”, tanya Lista dengan penasaran. “Ya, Salvatore Bruno. Agen IIB dari Kanada yang dicari sama pemerintahnya dan penyandera kita. Aku ga tahu dia habis ngapain lah. Yang jelas kata teman-temanku, dia dicari karena dia nyimpen suatu rahasia.”. Angellista hanya mengangguk tanpa bisa kulihat. Selama beberapa menit, kami berdua terdiam. Hanya ada suara burung hantu di luar dan suara jangkrik yang berirama sama.

Tiba-tiba saja ada suara menggebrak di sebelah kanan kami. Ternyata, sebuah cermin jatuh disenggol oleh seekor tikus. Aku pun sontak mendengar suara langkah kaki yang agak keras dengan sedikit gerutuan dari Bruno. Tetapi itu tidak berlangsung lama, setelah tikus tersebut bercicit dengan kerasnya. “Ah sudahlah, tikus itu lagi. Biarkanlah mereka makan sandera gue. Toh dengan begitu bisa dapet duit lagi.”, jawabnya dengan keras sembari tertawa terbahak-bahak. Suasana pun hening kembali. Dari cermin itu, sekarang, kami bisa melihat muka kami satu sama lain. Yang entah kenapa, membuat hatiku merasa tenang dan semakin tenang. Tiba-tiba Lista pun berkata, “Eh, Eduardson. Ngeliat mukamu, jadi mengingatkan aku pada seseorang?”. “Seseorang?”. “Iya seseorang, seseorang yang kukenal di waktu lampau.”, katanya memandang jauh. “Siapa itu?”, tanyaku penuh keheranan. Akan tetapi, dia tidak menjawab dan mengalihkan pembicaraan ke arah lain. Entah sejak kapan, kami menggunakan “aku-kamu” untuk menyapa satu sama lain, dan tanpa kusadari, aku semakin jatuh cinta kepadanya.

“Eh Eduardson, kamu beneran ya penasaran sama cerita itu?”, tiba-tiba Lista bertanya. “Ya, kalau kamu emang mau cerita, silakan. Kalau tidak, ya enggak apa-apa.”, jawabku. Akhirnya, Angellista mulai bercerita, “Ini terjadi sudah lama loh. Kalau tidak salah waktu aku umurnya masih sekitar 6 atau 7 tahun. Aku pergi ke Kepulauan Karibia. Nah, di sana, aku bermain sama kelompok aku. Akhirnya, ada seorang anak yang mengerjaiku dan aku pun menangis. Secara tiba-tiba, ada seorang anak, sepertinya dari Eropa, dia datang dan langsung mengusir para anak-anak tersebut. Akhirnya, ya begitulah. Kami berdua mengobrol dan meninggalkan kenangan masing-masing. Satu hal yang pasti, aku tidak akan pernah melupakannya Eduardson. Tidak akan pernah sampai akhir hidupku. Kenapa? Karena dia memberikan kesan yang tidak tergantikan di hatiku. Semula, kukira Rafael orangnya. Tetapi ternyata tidak, bukan Rafael. Tetapi seorang lain di luar sana, yang, aku tidak tahu keberadaannya dimana, sampai sekarang.”. Jujur saja, mendengar cerita itu, aku agak tercengang juga. Itu mirip dengan kejadian yang waktu aku alami waktu kecil, bahkan bisa dikatakan jika dalam presentase, 95 persen mirip dengan apa yang kualami waktu aku berlibur ke Kepulauan Karibia. Akhirnya, aku mulai bertanya, “Lista. Aku mau tanya, harap jawab yang jujur. Apa anak itu, ngasih kamu cincin dari ranting dan dedaunan?”. “Iya. Sampai sekarang aku masih pakai.”, jawabnya. “Terus, apa dia ngasih dua buah foto ke kamu?”. “Iya, dua foto yang difoto ketika aku dan dia duduk bareng di atas teras alami di Danau Apalite.”. Tiba-tiba saja, hatiku langsung berdebar-debar. Ingin sebenarnya kukatakan, “Kamu tahu? Kamu sedang berbicara dengan orang yang kamu temui dan yang takkan kamu lupakan tersebut.”. Tetapi, ah. Aku harus masih fokus mengeluarkan kami berdua. Tiada gunanya jika dia mengetahui kenyataan tetapi aku mati konyol, seperti yang dikatakan Falluci Hernandez sialan itu kepadaku. Akhirnya, kami terus bercengkerama mengenai hal-hal yang sebenarnya menarik bagiku, tetapi menjadi agak memalukan ketika dibicarakan dengan wanita.

Kulihat matahari pagi mulai memancarkan kehangatannya ke seluruh ruangan loteng. Aku mulai waspada, dan ternyata kewaspadaanku itu terbukti. Ada suara langkah kaki yang naik ke loteng dan beberapa saat kemudian, terbukalah penutup loteng. Salvatore Bruno, Chief Falluci Hernandez, dan 2 orang petugas berbadan kekar dari Kepolisian Los Santos dengan badge P.A.G.U. di lengan kanannya. Senyum sinis Falluci pun keluar dan senyuman sinis tersebut, terasa layaknya senyum sinis Emperor Palpatine di Star Wars sebelum menyiksa Luke Skywalker. “Baiklah, bodoh. Kau sudah terlalu nekat untuk melanjutkan investigasi yang menganggu kerajaanku. Tentu saja, dengan keadaanku yang sekarang, aku bisa memperalat Gubernur bodoh itu, Walikota yang enggak bisa apa-apa, dan representatif FBI yang terlalu tolol sehingga mudah ditipu.”, kata Falluci diakhiri dengan tertawa. “Berarti kau menambah masalahmu. Baik dengan FBI. US Marshal, bahkan dengan mengajak kawan lamamu atau rekananmu yang mantan IIB ini, berarti kau juga mencari masalah dengan IIB”, kataku cetus.  “Ooh, jadi kau mau bermain, baiklah. Tapi tenang dulu, aku akan memberikanmu kabar. Kapten Ricardo Samatha yang idiot itu dan Letnan Victory McKnight telah kusingkirkan dari Kepolisian Los Santos. Sehingga sekarang, kepolisian sudah resmi menjadi milikku, dan dengan sedikit bantuan kawan lamaku ini, aku akan menjadikan Pemerintahan San Andreas berada di bawah kendaliku. Bagus bukan?”, Falluci berbicara dengan sinis. “Ternyata, bapak yang selama ini saya percaya, berbuat begitu, Sudah cukup. Saya masih memiliki file-file khusus bapak yang tidak pernah saya buka. Saya yakin, buktinya pasti ada di sana, dan begitu orang-orang menemukan file itu, maka anda akan dihabisi oleh seluruh departemen anda sendiri.”, tambah Angellista dengan kesal. “Hohohoho, kau rupanya punya gadis berani disini Falluci. Bagaimana?”, kata Bruno. “Ambil saja kalau kau mau, malas aku melihatnya lagi.” kata Falluci. Ketika Bruno hendak melepas ikatannya, tiba-tiba saja terdengar suara tembakan. Para penyandera ini mengira itu adalah tembakan pistol. Tapi aku bisa mengenali tembakan ini. Ya, tembakan sebuah sniper Remington 780 yang sudah dimodifikasi. Tetapi pertanyaan yang muncul sekarang, “Siapa yang menembak? Kawan? Atau lawan?”. Karena ikatan kami berdua sudah longgar, aku pun melepaskan ikatan dan berhasil melumpuhkan kaki Falluci dan Bruno. Meski kutahu hanya untuk sementara saja. Akhirnya kami berdua meninggalkan rumah itu dalam sebuah Chevrolet Camaro Kuning yang kalau diperhatikan, sangat mirip dengan mobilnya Bumblebee versi awal di dalam Transformers.

Akhirnya, dimulailah pengejaran seru layaknya di film-film action Hollywood. Bedanya, ini terjadi dalam hidupku sendiri. Bersama dengan seorang yang kusayangi. Terlintas dipikiranku suatu hari nanti, aku akan menceritakan pengalaman ini pada anakku atau mungkin, pada cucuku. Tapi untuk saat ini, aku harus fokus mengemudikan kendaraan ke tempat yang aman. Tentu saja bukan Markas Kepolisian ataupun Balai Kota. Tetapi ke sebuah kabin tua di Palomino Creek. Ya, kabin milik Roland McCartney. Teman lamaku yang bekerja di Kepolisian Negara Bagian San Andreas. Mungkin dia mau meminjamkan kabinnya di sana untuk kami beristirahat sejenak. Seketika, gumamanku tenang kabin Roland sirna ketika sebuah peluru menghantam kaca spion mobil bagian kiri. “Kita butuh senjata! Setidaknya untuk membalas!”, teriak Lista. “Coba cari di belakang!”, kataku spontan. Beberapa saat kemudian, Angellista menarik sebuah SMG dari belakang jok, lalu membalas menembakki pengejar. Seketika itu juga, sirene mobil Ford Crown Victoria usang milik Kepolisian Los Santos mulai ikut-ikutan mengejar kami. North Rodeo, Vinewood, Carlo Highway, Coastline Avenue, Los Santos International Airport, Jefferson, dan Ganton.

Pengejaran sepertinya terus berputar di setiap wilayah itu saja. Ketika kami berbelok dan mencoba keluar menuju Palomino Creek melalui East Beach Avenue, kami dihadang oleh blokade belasan mobil Enforcer SWAT Kepolisian Los Santos. “Kemana kita sekarang?”, tanya Angellista. “Entahlah. Tidak ada jalan lain…… Angellista, aku harus mengatakan ini padamu.”, perkataanku ini membuat dia keheranan. “Kamu masih ingat dengan foto ini?”, kataku sembari mengeluarkan foto polaroid aku dan Lista yang masih berumur sangat kecil dan foto sobekan milikku yang menunjukkan Angellista memegang sebuah Coca Cola. Sontak, melihat foto tersebut dia pun tercengang. “Ya Lista. Inilah aku. Aku yang dulu membantumu mengusir anak-anak nakal itu. Akulah, yang juga membuatkan cincin daun ini. Sayang, aku tidak mendapatkan namamu. Sebenarnya, sebelum aku mengetahui masa lalumu pun, aku sudah jatuh cinta padamu. Maukah, kau menjadi milikku, selamanya?”. Dengan sedikit terkaget, dia pun mengangguk. Romantisme singkat itu langsung terpecah seketika ketika rentetan tembakkan mulai terdengar dan berdesing di sekitar mobil kami. “Kamu perlu ingat satu hal Lista, kalaupun aku mati disini, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Takkan pernah.”, kataku pelan sembari mengambil SMG dari tangan Angellista. Tanpa diduga, tiba-tiba ada suara 2 helikopter berputar dan memerintahkan, “FBI! HENTIKAN TEMBAKAN ANDA! SEKARANG! KAMI ULANGI! FBI! HENTIKAN TEMBAKAN ANDA!”. Akhirnya suara tembakan berdesing pun berhenti. Suara di helicopter memerintahkan, “Harold Eduardson! Leonia Angellista! Anda bisa keluar dengan aman! Jatuhkan senjata anda terlebih dahulu!”. Kami berdua menuruti perintah suara tersebut lalu keluar. Tiba-tiba ada sebuah Chevrolet Suburban hitam datang dari arah Utara dan menembus blokade SWAT dengan mudahnya. SUV itu berhenti di depan kami dan keluarlah Detektif Tama dari mobil tersebut. “Eduardson, Angellista. Maaf atas keterlambatan ini. Kami telah…”, sebelum Tama berhasil menyelesaikan kata-katanya, ada sebuah peluru menembus kaki kanannya. Itu adalah tembakan dari Falluci Hernandez. “Sudah cukup kalian berdua! Sekarang, kalian harus kuhabisi!”. Kemudian, ia menekan radio dan berkata dengan kencang, “Baiklah, SWAT Team. Tembak kriminal berbahaya ini.”. Tetapi, apa yang terjadi? Tidak ada satupun Tim SWAT Kepolisian yang menembak. “Ada apa ini? AYO TEMBAK!”, bentak Falluci.

Tiba-tiba saja, suara tembakkan terdengar, dan Falluci roboh seketika. Kakinya tertembak, kali ini oleh sniper. Seketika itu pula, muncullah Letnan Victory McKnight dengan sniper-nya. Kemudian dari belakang barisan petugas polisi, muncullah Kapten Ricardo Samatha membawa sebuah surat. Aku tahu surat apa itu, Surat Perintah Penangkapan. Pertanyaannya, untuk siapa? Tetapi setelah melihat Letnan Yuu menyita senjata Falluci, aku sudah bisa menebak siapa yang akan segera ditangkap. Kemudian itu pula, Detektif Tama bangkit dan mendudukkan dirinya di ban kiri depan Chevrolet Suburbannya. “Kepala Kepolisian Los Santos, Falluci Hernandez, anda kami tahan atas tuduhan konspirasi dalam kriminal, percobaan pembunuhan, pelaksanaan tindakan korupsi, dan masih banyak kriminal. Yang akan dijelaskan di pengadilan.”. Ketika itu pula, Angellista menambahkan, “Mantan Kepala Kepolisian Los Santos, Kapten. Berdasarkan aturan, Kepala Kepolisian Los Santos segera diberhentikan ketika ia ditangkap dengan Surat Perintah Penangkapan.”. “Baiklah kalau begitu aturannya, tetapi siapa yang akan menjadi Kepala Kepolisian? Angellista?”, tanya Ricardo. “Tentu tidak temanku, tapi aku punya ide yang lebih baik lagi.”, jawab McKnight sembari melirik kepadaku. “Aku?”, tanyaku heran. “Ya Eduardson. Kamulah yang paling cocok untuk mengisi posisi ini untuk sementara waktu.”, terang Detektif Tama yang entah sejak kapan, sudah berdiri di sampingku.

***

Aku pun menghela nafas mengingat semua kejadian itu. Kuperhatikan jam tangan, ternyata sudah menunjukkan pukul 17.55 dan aku sudah berada di tempat tunggu taksi untuk menunggu taksi yang datang. Tetapi baru saja aku ingin memanggil taksi, tiba-tiba terdengar sebuah klakson nyaring di kejauhan. Kuperhatikan, Ya, itulah dia, orang yang berarti dan istimewa bagi hidupku. Aku pun segera menghampiri Toyota Prius miliknya. Kemudian tanpa basa-basi aku langsung masuk ke dalam kendaraan tersebut dan mengencangkan sabuk pengaman.

“Kau nggak nyetir? Aku kelelahan nih nyetir dari Angel Pine ke sini.”, keluhnya dengan sedikit memelas. “Ah masa? Kupikir kamu lebih kuat dari beberapa bulan kemarin.”, aku pun tertawa lepas. “Yee, mentang-mentang sudah jadi kepala kepolisian disini, ga berarti kamu bisa seenaknya dong.”, keluhnya dengan cetus. “Ah yaudah, nanti aku yang nyetir. Sekarang, kamu aja dulu ke Palomino Creek. Capek dari Las Venturas ini aduh.”. “Ih manja.”, balasnya dengan cetus sembari menjalankan mobilnya. “Yah, kalo manja ga mungkin jadi kepala kepolisian dong”, balasku sambil tertawa.

2 thoughts on “Ketika Kamu Berada di Sisiku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s